SEKILAS
INFO MENGENAI ABU LAHAB
Abu
Jahal Amru bin Hisyam berasal dari Bani Abdid-Dar yamg memiliki kedudukan
terpandang di samping Bani Abdi Manaf. Namun orang-orang Bani Abdid-Dar
menganggap Bani Abdi manaf lebih tinggi darjatnya daripada mereka.
Abu
Jahal adalah seorang hartawan, hidup dalam kesenangan dan tidak meyakini bahawa
suatu saat nanti akan adanya hari perhitungan amal (Yaumul Hisab). Perwatakan
Abu jahal boleh digambarkan sebagai seorang yang sangat keras dan degil,
fikirannya selalu menolak kebenaran, dan selalu memelihara tradisi lama
Jahiliah, seperti yang diisyaratkan Allah dalam Al-Quran :
Dan
apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang Telah diturunkan
Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa
yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah
mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui
suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (Surah Al-Baqarah :170)
ABU
JAHAL MEMIMPIN PERMUSUHAN
Sejak
kedatangan Nabi Muhammad SAW, Abu Jahal tetap bertahan dalam kesalahannya dan
bersikap bengis dalam permusuhannya terhadap Rasulullah SAW. Hatinya begitu
kesat dan sangat berani dalam menyeksa kaum muslimin. Umar Bin Khattab (sebelum
masuk Islam) juga ikut bergabung dalam penyeksaan itu bersamanya. Umar juga
pada dahulu kalanya, seorang yang sama-sama keras, sehingga akhirnya Rasulullah
SAW berdoa’ : “Ya Allah, aku serahkan
kepada-Mu dua Umar agar Engkau beri petunjuk, iaitu Amru Bin Hisyam dan Umar
Bin Khattab.”
Maka
Umar Bin Khattab mendapat hidayah masuk Islam dan bergabung bersama Nabi SAW,
manakala Abu Jahal terus menyeksa orang-orang Islam dengan seksaan yang kejam
dan terus-menerus, terutama terhadap keluarga Yasir. Kekejaman tindakan Abu
Jahal ini, hingga dia akhirnya telah tega membunuh Sumayyah, yaitu isteri Yasir
dengan cara pembunuhan yang paling kejam dan amat-amat-amat menyayat hati
sekali.
Sumayyah telah dibunuh oleh Abu jahal dengan melemparkan sebatang
tombak kecil pada kemaluannya. Akibat daripada itu, Sumayyah akhirnya telah
gugur sebagai syahidah pertama dalam Islam. Perbuatan Abu Jahal tersebut boleh
saya gambarkan sebagai manusia yang berperwatakan seperti Iblis. Tidak ada
langsung rasa simpati atau belas kasihan terhadap wanita syuhada ini
(Sumayyah).
Sambungan
Kisah Abu Jahal….
Selepas
itu, Abu Jahal terus menyeksa Yasir, hingga akhirnya dia melemparkan seketul
batu besar ke kepalanya. Dan akhirnya Yasir pun mendapat syahid di situ
menyusuli isterinya, Sumaiyah yang syahid terlebih dahulu. Anak Yasir, Ammar
juga tidak luput daripada kekejaman Abu Jahal.
Dia diseksa dengan seksaan yang
sangat berat. Nabi Muhammad SAW tidak mampu berbuat apa-apa kecuali
menghiburkan hatinya seraya berkata, “Semoga kesabaran keluarga ada pada
keluarga Yasir. Maka tempat pertemuanmu sekalian adalah syurga.”
Ketika
Ammar diseksa dengan cara dipanggang di atas api, Nabi berdoa baginya, “Ya
Allah, jadikanlah api itu sejuk dan berilah keselamatan bagi Ammar sebagaimana
yang telah engkau berikan keselamatan
bagi Ibrahim.” Dan ternyata benar. Ammar
tidak langsung merasakan panasnya api tersebut bahkan Ammar pada ketika itu
tidak merasakan apa-apa pun yang berlaku ke atasnya.
Abu
Jahal tidak merasa puas menyeksa orang-orang lemah dari kaum muslimin, bahkan
dia juga mengancam para pembesar kaum dan apabila adanya seorang pedagang yang
masuk Islam, dia akan berusaha menghalang perdagangannya agar tidak laku bahkan
sekiranya terdapat seorang pemimpin yang masuk Islam, dia kan bertindak
mengejek dan menjatuhkan maruahnya/ kehormatannya sehabis mungkin.
Dalam
satu riwayat diterangkan bahawa Abu Jahal pernah menampar Fatimah Az-Zahra,
puteri Rasulullah SAW.
Fatimah
mengadu kepada Abu Sufyan. Maka Abu Sufyan berkata kepadanya, “Tamparlah dia.
Allah telah memburukkannya.”
Maka
Fatimah lalu menampar Abu Jahal sedangkan Abu Jahal tidak berkuasa membalasnya.
Ketika
Nabi SAW mengetahui kejadian ini, baginda berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau
lupakan kejadian ini bagi Abu Sufyan.”
ABU
JAHAL MENGEJEK NABI
Dia
sangat agresif membakar semangat di kalangan orang-orang yang bodoh agar
mengejek orang-orang Islam, saling mengerdipkan mata dan menghina mereka. Maka
turunlah ayat Al-Quran tentang sikap orang-orang musyrik ini :
“Sesungguhnya
orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang mentertawakan orang-orang yang beriman.
Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling
mengerdip-ngerdipkan matanya. Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali
kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira........
Dan apabila mereka melihat
orang-orang mukmin, mereka mengatakan: "Sesungguhnya mereka itu
benar-benar orang-orang yang sesat", Padahal orang-orang yang berdosa itu
tidak dikirim untuk Penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini,
orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir,” (Surah Al-Muthafifin : 29-34)
Dikisahkan
bahawa Abu Jahal pernah membeli seekor unta daripada seseorang yang bernama
Al-Arasyi. Namun Abu Jahal sering menunda-nunda wang pembayarannya. Al-Arasyi
meminta saranan daripada pemimpin Quraisy. Namun mereka tidak mempedulikannya
sahaja., lalu mereka berkata, “Pergilah menemui Muhammad. Tentu dia mampu
mengembalikan hakmu”.
Al-Arasyi
menemui Rasulullah SAW, lalu bersama baginda dia menemui Abu Jahal. Nabi
mengetuk pintu rumahnya dan meminta hak Arasyi. Abu Jahal gementar ketakutan
dan mengaku di hadapan Rasulullah SAW.
Ketika Abu Jahal ditanya tentang kejadian ini, dia berkata, “Dia telah mengetuk
pintuku. Kulihat seakan-akan rumahku ini hendak jatuh roboh di atas kepalaku.
Maka, aku pun takut terhadap terhadap keselamatan diriku.”
Pada
suatu saat dia pernah menghadang langkah nabi SAW dalam satu perjalanan seraya
berkata, “Bukankah aku sudah melarangmu solat di samping Kaabah?”
Nabi
menjawab dengan jawapan yang keras, “Apakah kamu hendak mengancamku sedangkan
aku penduduk lembah ini yang lebih mulia untuk berseru?”
Maka
Al-Quran menerangkan dengan lebih lanjut mengenai sikap Abu Jahal ini, dalam
Al-Quran:
“Dan
Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, Seorang hamba ketika
mengerjakan shalat, Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di
atas kebenaran, Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? [1590] ,Bagaimana
pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?............
Tidaklah dia
mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah,
sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik
ubun-ubunnya[1591], (yaitu) ubun-ubun
orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka Biarlah dia memanggil golongannya
(untuk menolongnya), Kelak kami akan memanggil malaikat Zabaniyah[1592],
Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan
dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (Surah AL-Alaq : 9-19)
Penerangan
:
[1590] yang dimaksud dengan orang yang hendak
melarang itu ialah abu Jahal, yang dilarang itu ialah Rasulullah sendiri. akan
tetapi usaha Ini tidak berhasil Karena abu Jahal melihat sesuatu yang
menakutkannya. setelah Rasulullah selesai shalat disampaikan orang berita itu
kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengatakan: "Kalau jadilah abu Jahal
berbuat demikian pasti dia akan dibinasakan oleh Malaikat".
[1591] Maksudnya: memasukkannya ke dalam neraka
dengan menarik kepalanya.
[1592] Malaikat Zabaniyah ialah malaikat yang
menyiksa orang-orang yang berdosa di dalam neraka.
Dia
menjanjikan kepada para pemimpin Mekkah bahawasanya, dia akan melempar kepala
Muhammad hingga pecah dengan sebuah batu ketika saat baginda sedang sujud. Dan
ketika dia ingin melaksanakan niatnya itu, tiba-tiba badannya bergetar dengan
kuat seraya menggigil.
Mereka bertanya tentang kejadian ini. Maka Abu Jahal
menjawab, “ Aku telah melihat sebuah parit, fatamorgana dan sayap.”
Lalu
nabi SAW berkata , “ Rupanya malaikat telah mendatangi dirinya. Andaikata dia
berani mendekati Muhammad pada waktu itu, tentu Malaikat akan menariknya
sedikit demi sedikit.”
Kerana
tindakan Abu Jahal yang sangat kejam dan buruk ini, telah mendorong Hamzah Bin
Abdul Muthalib masuk Islam. Pada suatu hari, Rasulullah SAW telah berjalan ke
Safa’. Lalu Abu Jahal menyakiti baginda, yang kebetulan dilihat oleh hamba
perempuan Abdullah Bin Jad’an. Pada waktu itu pula, Hamzah sedang pulang ke
rumah sambil menyandang busurnya.
Ketika hamba perempuan itu memberitahukan
tindakanAbu Jahal terhadap Rasulullah SAW, dia sangat marah, lalu bergegas
menemui Abu Jahal sendirian yang sedang berkumpul bersama para pemimpin Mekah,
memukulkan busurnya terhadap Abu Jahal sehingga melukai dirinya, seraya
berkata, “Hai orang melarat lagi besar punggungnya, kamu telah mencaci anak
saudaraku. Ketahuilah, aku sudah berada pada agamanya.”
Kemudian
Hamzah berkata lagi, “Hadapilah aku bila kamu mahu!”
Namun,
malangnya, nampaknya Abu jahal merasa amat takut. Lalu dia berkata kepada
orang-orang sekitarnya, “Biarkanlah dia, kerana aku telah mencaci maki
saudaranya dengan cacian yang buruk”.
ABU
JAHAL MEMIMPIN PENGEPUNGAN
Ketika
orang-orang Quraisy memutuskan hubungan dengan Nabi SAW dan orang-orang satu
suku kaum dengan Abu Thalib, maka Abu Jahal menyediakan dirinya sebagai
pengawal yang bertugas bagi mengawasi setiap jalan.
Dia akan mencegah setiap
bantuan yang akan diberikan kepada orang-orang yang berada dalam pengepungan.
Dia juga mendengar sendiri rintihan anak-anak kecil yang menanggung penderitaan
namun langsung tidak dihiraukan olehnya.
Hasyim
Bin Amru Bin Amir bin Lu’ay juga merasa terseksa dengan kejadian ini. Maka, dia
pergi menemui temannya, Zuhair bin Umaiyyah Al-Makhzumy, seraya berkata
kepadanya, “Wahai Zuhair, relakah kamu seperti yang kamu ketahui?” Ibu Zuhair,
Atikah Binti Abdul Muthalib adalah saudara Muhammad S.A.W.
Zuhair
berkata, “Celaka kamu!!!. Apa yang dapat kuperbuat hanya seorang diri seperti
ini? Demi Allah, andaikata ada orang lain bersamaku, tentu sudah kulanggar isi
shahifah (pengumuman yang bergantung di
sisi Kaabah)”
Hasyim
Berkata, “Akulah orang lain itu.”
“Bantulah
untuk mencari orang ketiga.”
Akhirnya
mereka berhimpun sebanyak lima orang. Lalu Zuhair yang memulai berkata, “Wahai
penduduk Mekah, kita dapat menikmati makanan, menikmati minuman serta
mengenakan pakaian, sedangkan Bani Hasyim langsung tidak dapat. Demi Allah, aku
tidak akan tinggal diam sehingga shahifah yang memutuskan dan zalim itu koyak
dan hancur.”
Abu
Jahal berdiri dan berkata, “ Demi Allah, kamu berdusta. Shahifah itu tidak
koyak.”
Zam’ah
berkata, “Demi Allah, kamulah yang paling pendusta. Sebenarnya kami tidak rela
terhadap penulisan shahifah itu ketika kamu menulisnya.”
Dengan
suara yang rendah, Abu Jahal berkata, “Ini masalah yang sudah dimesyuaratkan
dan di dalamnya terdapat manfaat.”
Allah
memberi kekuasaan kepada rayap untuk merosak shahifah yang digantung di dinding
Kaabah, sehingga yang tersisa dari papan tanda itu hanya tulisan nama Allah.
Dengan begitu, Abu jahal pun merasa malu.
ABU
JAHAL DAN ISRA’ MI’RAJ
Setiap
hari Abu jahal berlalu di samping Rasulullah SAW, dan dengan nada mengejek dia
selalu bertanya tentang ayat al-Quran yang diturunkan kepada baginda. Ketika
sedang lalu berhampiran Nabi, dia beranya “Apakah ada sesuatu yang telah
terjadi?”
Baginda
menjawab, “Benar. Semalam aku telah diperjalankan dari Masjidil-Haram ke
Masjidil-Aqsa.”
Abu
Jahal bertanya lagi, “Apakah kamu sudah memberitahu kaummu tentang apa yang
kamu katakan kepadaku ini?”
“Sudah, “jawab nabi.
Lalu,
Abu Jahal mengumpulkan manusia dan dia mengira inilah saat akhir daripada
kenabian baginda, sebabnya mereka pasti tidak percaya akan apa yang ingin
disampaikannya. Maka baginda pun bercerita kepada mereka apa yang telah
dialaminya.
Mereka
berkata bahawasanya peristiwa yang berlaku itu amat-amat sukar untuk
dipercayai, “Engkau diperjalankan hanya sebahagian dari satu malam, dan sesudah
itu, engkau sudah berada dihadapan kami.”
Mereka mendatangi Abu Bakar dan menceritakan apa
yang mereka dengari daripada Rasulullah SAW, sambil mengira bahawa Abu Bakar
bakal menolak berita ini.
Tapi dia menjawab, “Andaikata dia berkata seperti
itu, maka itulah yang benar. Demi Allah, sesungguhnya aku membenarkannya
tentang khabar yang datang kepadanya dari langit hanya dalam sesaat dari
sebahagian malam atau siang.”
Sebagai
bukti bahawa baginda benar-benar sudah diperjalankan dari Masjidil haram ke
Masjidil Aqsa, maka baginda menceritakan tentang kafilah dagang milik Quraisy,
di mana salah satu antara unta dalam kafilah itu ada yang melarikan diri dari
rombongan.
Baginda menyebutkan pula tempat kejadiannnya. Setelah kafilah itu
tiba, mereka menyiasati kebenarannya. Maka, memang benar sebagaimana yang telah
diceritakan oleh baginda SAW. Namun, mereka tetap bersikap sombong dan tidak
mahu menerima kebenaran yang ada di hadapan mereka. Maka, turunlah Firman Allah
yang menceritakan sikap mereka yang tidak mahu beriman walaupun sudah ada bukti
yang menguatkan :
Telah
dekat datangnya saat itu dan Telah terbelah bulan[1434]. Dan jika mereka
(orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan
berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus". (Surah Al-Qamar
:1-2)
[1434] yang dimaksud dengan saat di sini ialah
terjadinya hari kiamat atau saat kehancuran kaum musyrikin, dan
"terbelahnya bulan" ialah suatu mukjizat nabi Muhammad SAW.
ABU
JAHAL MEMPERSENDAKAN AL-QURAN
Ketika
turun ayat yang mendedahkan tentang diri Al-Walid bin Mughairah, khususnya ayat
dalam (Surah Al-Muatsir :26-30) :
Aku
akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu apakah (neraka) Saqar
itu?. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan [1527]. (neraka Saqar)
adalah pembakar kulit manusia. Dan di atasnya ada sembilan belas (Malaikat
penjaga).
[1527] yang dimaksud dengan tidak meninggalkan dan
tidak membiarkan ialah apa yang dilemparkan ke dalam neraka itu diazabnya
sampai binasa Kemudian dikembalikannya sebagai semula untuk diazab kembali.
Maka
Al-Walid merasa ketakutan yang amat. Namun, Abu Jahal segera menghiburkannya
seraya berkata, “Apakah setiap seratus orang di antara kita tidak mampu
menghadapi satu malaikat?”
Maka
turunlah ayat berikut : “Dan tiada kami
jadikan Penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah kami
menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cubaan bagi orang-orang
kafir.... (Surah Al-Mudatsir :31)
Maka,
turun juga ayat Al-Quran kepada baginda SAW :
“(Makanan surga) itukah hidangan yang lebih
baik ataukah pohon zaqqum[1277]. Sesungguhnya kami menjadikan pohon zaqqum itu
sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang
pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.
(Surah As-Shafat : 62-65)
[1277] Zaqqum adalah jenis pohon yang tumbuh di neraka.
Ketika
ayat-ayat ini sudah turun, maka Abu jahal bertanya tentang pohon zaqqum itu
kerana dia tidak tahu, dan bagaimana mungkin ia boleh tumbuh di dalam neraka.
Lalu dia berkata dengan nada mengejek , “Pohon itu tentunya seperti kurma
Yatsrib yang dapat kamu makan.”
Lalu
Allah menghinakan ucapan Abu jahal dengan Firman-Nya :
“Sesungguhnya
pohon zaqqum itu[1378], Makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran
minyak yang mendidih di dalam perut, Seperti mendidihnya air yang amat panas.
Peganglah dia Kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka. Kemudian
tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. Rasakanlah,
Sesungguhnya kamu orang yang Perkasa lagi mulia”[1379]. (Surah Ad-Dukhan : 43-49)
[1378] Zaqqum adalah jenis pohon yang tumbuh di
neraka
[1379] Ucapan Ini merupakan ejekan baginya.
Meskipun
begitu, ayat-ayat al-Quran telah menimbulkan rasa marah ketiga-tiga orang
pembesar Quraisy yang zalim : Abu Sufyan, Abu Jahal dan Al-Akhnas Bin Abi
Syariq.
Mereka bertiga bersembunyi di sebalik kelambu Kaabah dan mendengarkan
apa yang dibaca Nabi SAW. Mereka yang pada tadinya datang bersendirian,
akhirnya saling berazam tidak akan
mengulangi lagi perbuatan mereka. Akan tetapi, pada malam kedua dan
ketiga selepas itu, ternyata mereka masih mengulanginya lagi. Akhirnya mereka
sepakat tidak akan mengulanginya lagi.
Sesudah
kejadian itu, Al-Akhnas segera bertanya kepada Abu Sufyan, bagaimana
pendapatnya tentang diri Muhammad. Namun, Abu Sufyan menjawab, “Aku tidak dapat
memberi komen sedikitpun tentang diri Muhammad. Al-Quran turun kepadanya dan
membuka keburukan diriku.”
Lalu Abu Jahal menjawab, “Kita saling
berbantah-bantahan sendiri, sedang Bani Abdi Manaf yang mulia dapat makan dan
kita begitu pula. Mereka dapat minum, begitu pula kita. Sehingga kita
laksanakan seperti penunggang kuda yang dipertaruhkan, maka mereka akan
berkata, “Dari golongan kami ada seorang nabi yang kepadanya turun wahyu
daripada langit. “ Lalu bilakah kita dapat meyakini hal ini? Demi Allah, kita
tidak akan mempercayainya dan tidak akan membenarkan ucapan ini
selama-lamanya.”
ABU
JAHAL MENGHALANG ORANG-ORANG ASING
Serombongan
utusan datang dari Habsyah untuk mendapatkan berita tentang Nabi SAW. Nampaknya
berita tentang baginda sudah mereka terima, sehingga sebelum bertemu, mereka
sudah memeluk Islam. Abu Jahal yang mendengar khabar kedatangan mereka bersikap
keras terhadapnya seraya berkata, “Allah telah menggaggalkan segolongan manusia
yang mengutusmu sekalian, memisahkan dari keluarga agar kamu menjadi murtad.
Kamu datang kerana mendengar khabar tentang orang itu (Muhammad). Pertemuanmu
dengan orang itu tidak akan berjalan lancar kecuali setelah kamu mahu
meninggalkan agamammu dan kamu membenarkannya. Kami tidak akan melihat
serombongan orang yang lebih bodoh daripada kalian.”
Tapi
dengan cara yang halus mereka tidak mahu menanggapinya. Firman Allah tentang
hal ini :
“Dan
apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling
daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu
amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan
orang-orang jahil". (Surah Al-Qashash : 55)
ABU
JAHAL DAN HIJRAH
Ketika
orang-orang musyrik mendengar para sahabat Nabi SAW pergi ke Yathrib dengan
cara sembunyi-sembunyi dan menghindari pertemuan dengan mereka, maka mereka
berkumpul di Darun Nadwah. Mereka mengatur gerakan baru untuk menghadapi Muhammad SAW. Ada yang
berpendapat untuk memenjarakan baginda hingga mati, ada yang berpendapat untuk
mengusirnya dari bumi Mekkah, terserah ke mana pun baginda pergi.
Namun Abu
Jahal menyarankan atas bisikan syaitan, agar setiap kabilah memilih seorang pemuda yang gagah perkasa dan
dipersenjatai dengan pedang. Apabila baginda keluar rumah, maka setiap orang di
antara mereka harus menebaskan pedang ke badan baginda, sehingga semua kabilah
bertanggungjawab ke atas kematian Muhammad. Sesudah itu diharapkan Bani Abdi
Manaf mahu menerima wang tebusan atas kematiannya. Tentang hal ini Allah
berfirman :
“Dan
(ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu
untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka
memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah
sebaik-baik pembalas tipu daya”. (Surah Al-Anfal : 30)
Abu
Jahal memutuskan agar para pemuda itu mengepung rumah Nabi. Tetapi Allah dapat
mengeluarkan baginda dan membutakan pandangan mereka untuk seketika. Akhirnya
mereka hanya mampu mendapatkan seorang pemuda yang sedang tidur nyenyak, iaitu
Saidina Ali Bin Abu Thalib.
Abu
Jahal bagaikan orang yang kehilangan akal pada waktu itu. Dengan geram dia
lantas pergi ke rumah Abu Bakar, lalu bertanya kepada Asma’ tentang kepergian
ayahnya, Abu Bakar.
Dengan
nada suara yang keras, Asma’ menjawabnya. Tanpa menaruh belas kasihan terhadap
wanita, Abu Jahal menampar Asma’ hinga telinganya berdarah.
Mereka terus mencari jejak Rasulullah SAW dan Abu Bakar, hingga tiba
berdekatan dengan gua yang dijadikan tempat persembnyian mereka.
Abu
Bakar berkata dengan perasaan yang amat takut kepada nabi SAW, “ Wahai
Rasulullah SAW, andaikata salah seorang antara mereka melihat ke mulut gua ini,
tentu dia kan melihat kita.”
Dengan
penuh keyakinan, baginda menjawab, “Wahai Abu Bakar, bagaimanakah pendapatmu
tentang dua orang, sedang Allah yang ketiga disamping dua orang itu? Janganlah
berduka, sesungguhnya Allah bersama kita.”
KEMATIAN
ABU JAHAL
Setelah
orang-orang Quraisy mengetahui bahawa kafilah dagang dapat dibebaskan, dan
mereka bermesyuarat untuk kembali menghadapi kaum muslimin, maka Abu Jahal
berteriak lantang, “Kita harus pergi ke Badar, menetap di sana selama tiga hari
sambil menikmati arak, menabuh rebana dan mendendangkan nyanyian agar Muhammad
tahu bahawa kita tidak takut kepadanya.”
Nabi
memohon kemenangan lantaran sikap Abu Jahal selama ini, dan berdoa, “Ya Allah,
dia telah memotong persaudaraan dengan kami dan mendatangi kami tanpa diketahui
apa maksudnya. Maka binasakanlah dia esok hari.”
Dalam
perang badar, dengan sikap yang amat-amat hina, dia telah membuka auratnya lalu
bergabung dalam medan peperangan. Ada dua orang pemuda yang bertanya kepada
Abdurrahman Bin Auf, bahawasaya di mana Abu Jahal berada. Setelah
mengetahuinya, keduanya segera mendatangi Abu Jahal sambil menghunus pedangnya.
Ibnu Mas’ud juga menyusul sehingga dia berjaya menindih di atas dadanya.
Dalam keadaan yang sudah tidak terdaya,
dia masih sempat bertanya, “Pada saat ini bagi kemenangan siapakah negeri ini?”
Ibnu
Mas’ud menjawab, Bagi Allah dan Rasul-Nya.”
Nabi
SAW berkata tentang dirinya , inilah “Fir’aun umat”, Nabi membiarkan beberapa
orang membunuhnya. Manakala Ikrimah yang sudah masuk Islam tidak lagi menyimpan
rasa belas kasihan langsung terhadap nasib ayahnya yang kafir dan zalim itu.
Allahumma solli ‘ala saidina Muhammad :”)