Kata Azimat

Kata Azimat
" Usaha itu Perlu, Doa itu Pembantu, Allah itu Penentu"... "Setiap Ilmu Yg Dipelajari perlu kepada Bimbingan Akal serta Panduan Iman Agar tidak tersasar dari Landasannya"... "Tiada tali yang paling erat selain tali silaturrahim, Tiada pintu yang pling kukuh selain pintu hati.., Tiada hutang yang pling berat selain hutang budi.., Tiada pemberian yang paling berharga selain memberi maaf"..."Allah sentiasa bersama hamba-hambaNya selagi hamba- hambanyaNya mengingatinya"... "Setiap Ujian Yang Datang Daripada Allah.., Pasti akan ada hikmahnya..,Terpulang pada diri untuk menilainya"... "The More We Learn..., The More We Know that We Are So Stupid.."......"Ukhuwah yang dibina di antara kita biarlah seperti seutas tasbih..,, ada awal.., tiada penghujungnya,,,,, dicipta untuk mengingati-Nya...dibahagi untuk cinta-Nya..,, dan diratib demi keredhaan-Nya..Ukhuwah itu umpama ikatan tasbih.. Butir-butir tasbih mewakili roh-roh yang terjalin, manakala ikatan tali tasbih mewakili ukhuwah tersebut.. Sekiranya ikatan tersebut tidak diketahui dan terputus.., maka bercerailah roh-roh tersebut dan menjadi jauh..;')

Tuesday, August 18, 2026

Rasulullah S.A.W-Qudwah Hasanah Sepanjang Zaman



  

Pernahkah kita membayangkan ada seseorang yang hidupnya hanya dipenuhi doa untuk orang lain? Seseorang yang tidak pernah tenang melihat umatnya menderita, bahkan sampai akhir hayatnya yang terucap adalah kata-kata penuh cinta, iaitu “Ummati, ummati” — umatku, umatku.


Dialah Nabi Muhammad S.A.W, manusia pilihan Allah yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Bukti paling indah dari kasih sayang beliau terangkum dalam dua ayat terakhir Surah at-Taubah:


لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ (128) فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (129)


Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaannya, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), katakanlah (Wahai Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arsy yang agung.”

(Surah At-Taubah Ayat 128-129)

 


Ayat ini bukan sekadar firman yang indah, melainkan lukisan cinta yang hidup. Allah S.W.T menggambarkan Nabi Muhammad S.A.W sebagai bahagian dari kita, dengan nasab yang jelas, akhlak yang terpelihara, dan kehidupan yang dekat dengan umat manusia. 

 

Beliau bukan sosok asing yang hanya bisa dipandang dari jauh, melainkan tauladan yang nyata untuk diikuti. Lebih dari itu, ayat ini juga menjadi penggambaran tentang diri Rasulullah S.A.W yang luar biasa, seorang manusia yang hatinya larut dalam penderitaan umat, yang setiap detiknya menginginkan keselamatan mereka, dan yang diberi anugerah dua sifat agung Allah sendiri—ra’ūf (sangat penyantun) dan raḥīm (sangat penyayang).

 

 Inilah potret utuh Nabi Muhammad S.A.W sebagaimana kehendak Allah S.W.T untuk dikenang oleh umat, penuh kasih, sabar dalam menghadapi penolakan, dan teguh dalam tawakal. Dua ayat ini seakan menjadi cermin keagungan pribadi beliau, manusia mulia yang menggabungkan kedekatan, cinta, dan keteladanan dalam satu peribadi yang tak tertandingi sepanjang sejarah.



Rasulullah S.A.W, adalah insan kamil yang dekat dengan umatnya. Rasulullah S.A.W bukanlah sosok asing yang datang dari luar, melainkan termasuk dari masyarakatnya sendiri. Tafsir Al-Ṭabarī menegaskan bahwa beliau diutus dari kalangan bangsa Arab, yang sejak lama mengenalnya sebagai peribadi yang sangat dipercayai, jujur dan berakhlak mulia.  Mereka tahu garis keturunannya yang suci, menyaksikan sejak kecil perilakunya yang terjaga, dan mendapat gelaran al-Amīn (yang dapat dipercayai).

 

Nabi Muhammad S.A.W hadir bukan sebagai tokoh jauh yang hanya boleh dipuji dari kejauhan, melainkan manusia yang hidup nyata di tengah masyarakat, makan bersama mereka, bekerja bersama mereka, dan merasakan penderitaan mereka. Baginda adalah insan sempurna yang akrab dan boleh disayangi oleh siapa pun. Kehadiran beliau membuktikan bahwa keteladanan tidak lahir dari jarak, melainkan dari kedekatan, tidak hanya dari kata-kata, melainkan dari kehidupan sehari-hari yang penuh konsistensi. Kerana itu, setiap sisi kehidupan Rasulullah S.A.W, baik sebagai suami, ayah, sahabat, pemimpin, maupun hamba Allah, menjadi sumber inspirasi abadi yang wajar kita teladani hingga hari ini. Baginda adalah sebaik-baik contoh ikutan untuk sekalian manusia di dunia ini.

 

Menurut Al-Qurṭubui, penderitaan, kesesatan, bahkan azab seksa neraka bagi umatnya, membuat hati Rasulullah S.A.W penuh resah. Padahal beliau adalah insan yang sudah dijamin syurga, tetapi masih menitiskan air mata demi keselamatan umatnya. Bahkan ketika berperang, yang beliau inginkan bukan kebinasaan musuh, melainkan agar mereka beriman.



Andai saja mereka menerima kebenaran, itu jauh lebih membahagiakan bagi baginda daripada kemenangan di medan perang. Air mata baginda dalam doa menjadi saksi, tangisan itu bukan untuk dirinya, tetapi untuk kita. Keinginan tulus  ikhlas agar Kita selamat di dunia dan di akhirat. Hal tersebut seakan menunjukkan betapa besar kasih -sayang dan kerinduan Nabi Muhammad S.A.W kepada umat manusia. Kerinduan itu bukan sekadar rasa rindu seorang guru kepada murid, atau pemimpin kepada pengikut, melainkan kerinduan seorang kekasih yang tidak pernah ingin ditinggalkan oleh orang yang dicintainya.

 

Nabi Muhammad S.A.W begitu mendambakan agar mereka yang masih jauh dari cahaya Islam dapat menemukan hidayah, dan mereka yang sudah beriman tetap teguh dalam keimanan tanpa goyah oleh godaan dunia.   Setiap langkah dakwah beliau, setiap seruan tauhid, dan setiap nasihat yang beliau sampaikan, semuanya lahir dari satu keinginan  agar manusia tidak tersesat, tidak terjerumus ke jurang kehancuran, melainkan merasakan manisnya iman dan keselamatan abadi di sisi Allah S.W.T. Kerinduan ini tidak pernah padam, bahkan ketika beliau dicaci, ditolak, atau dilukai, cinta dan harapan beliau pada keselamatan umatnya justeru semakin besar dan mendalam.

 


Oleh sebab itu, doa Nabi Muhammad S.A.W sentiasa dipenuhi dengan permohonan ampunan, kebaikan, dan rahmat untuk umatnya. Tidak hanya untuk mereka yang beriman di zamannya, tetapi juga untuk kita semua yang lahir jauh setelah beliau wafat.  Bahkan kelak pada hari kiamat, saat seluruh manusia diliputi ketakutan yang amat dahsyat, para Nabi lain hanya sempat memikirkan diri mereka sendiri seraya berkata, “nafsī, nafsī” (diriku, diriku).

 

Namun Rasulullah S.A.W tampil berbeza. Baginda  tidak berkata untuk dirinya, melainkan menyerukan dengan penuh cinta: “ummatī, ummatī” (umatku, umatku).  Pemandangan ini menjadi bukti cinta yang tiada tandingnya bahwa pada saat semua manusia sibuk menyelamatkan diri, beliau tetap mengingat umatnya, memohonkan syafaat, dan berharap kita semua mendapatkan ampunan. Itulah kerinduan abadi yang hanya lahir dari seorang Rasul yang benar-benar hidupnya dipersembahkan untuk cinta kepada Allah S.W.T dan kasih sayang kepada manusia umum.

 


Ra’ūf dan Raḥīm: Cermin Kasih Sayang Allah S.W.T menganugerahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W dua sifat agung yang begitu istimewa: ra’ūf (sangat penyantun) dan raḥīm (sangat penyayang). Kedua sifat ini bukan sembarangan gelaran, melainkan bahagian dari Asma Allah sendiri, dan hanya Rasulullah S.A.W yang mendapatkannya sekaligus.  Ini menandakan bahwa baginda adalah pancaran langsung dari kasih sayang Ilahi di muka bumi. Setiap gerak dan langkahnya mencerminkan kelembutan, setiap kata yang terucap membawa keteduhan, dan setiap tindakannya menghadirkan kedamaian bagi siapa pun di sekitarnya. 

 

Baginda Nabi S.A.W bukan hanya seorang pemimpin yang ditaati, tetapi juga seorang pendidik yang penuh kelembutan, seorang sahabat yang dapat dipercaya, bahkan seorang pemimpin yang penuh kasih bagi seluruh umat manusia. Sifat ra’ūf dan raḥīm ini membuat beliau selalu hadir sebagai penolong dan pelindung, meski sering kali umatnya sendiri melupakan dan mengabaikan beliau. Al-Qurṭubī menegaskan bahwa gelaran ini adalah bukti betapa mulianya kedudukan Nabi Muhammad S.A.W di sisi Allah S.W.T.

 


Tidak ada nabi lain yang digambarkan dengan sifat kasih sayang sedemikian lengkapnya.  Rasulullah S.A.W bukan hanya utusan yang menyampaikan risalah, tetapi juga penghibur bagi hati-hati yang gundah, penyembuh luka batin mereka yang patah, dan sahabat setia bagi siapa pun yang mencari ketenangan. Ketika kita merasa jauh dari rahmat, baginda hadir dengan doa-doanya agar kita didekatkan kembali. Ketika kita tergelincir dalam dosa, baginda memohonkan ampunan agar kita tidak binasa.  Dan ketika kita merasa sendirian dalam hidup ini, cukup kita mengingat bahwa ada seorang Rasul yang setiap detik hidupnya diisi dengan kasih-sayang untuk kita, hingga Allah S.W.T sendiri meneguhkan sifat itu dalam Al-Quran.

 

Inilah cinta yang hakiki, cinta yang tidak menuntut balasan, cinta yang abadi sepanjang zaman. Kisah Thaif: Cinta yang Tidakk Pernah Terbalas dengan Kebencian. Salah satu momen paling menyayat hati dari perjalanan Nabi S.A.W adalah ketika beliau berdakwah di Thaif. Alih-alih diterima, beliau justru dihina, diusir, bahkan dilempari batu hingga tubuh mulianya berdarah. Dalam keadaan penuh luka dan keletihan, malaikat Jibril datang menawarkan bantuan: “Wahai Muhammad, jika engkau mahu, akan aku timpakan gunung ini untuk menghancurkan penduduk Thaif.” Namun jawab Nabi Muhammad S.A.W sungguh mengejutkan. Beliau menolak balas dendam.  

 

Sebaliknya, baginda mengangkat tangan dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak tahu. Ya Allah, semoga dari keturunan mereka lahir generasi yang beriman kepada-Mu.” Lihatlah, di saat manusia biasa mungkin akan murka, Rasulullah S.A.W justru memilih doa dan harapan kebaikan. Kisah Thaif adalah bukti nyata sifat ra’ūf dan raḥīm beliau, kasih sayang yang tidak terbalas dengan kebencian, tetapi dengan doa untuk keselamatan. Teladan Agung dalam Tawakal Akhir ayat ini mengajarkan kalimah yang begitu dalam: “Hasbiyallāh, lā ilāha illā Huwa, ‘alayhi tawakkaltu wa Huwa Rabbul-‘Arsyil-‘Azhīm.” (Cukuplah Allah bagiku, tiada tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb Pemilik ‘Arsy yang agung.)

 


Saat ditolak, Rasulullah S.A.W tidak mencari pengaruh manusia. Beliau tidak bergantung pada banyaknya pengikut, tidak pula putus asa. Beliau hanya bersandar pada Allah S.W.T. Dari sinilah kita belajar bahwa kekuatan sejati seorang Muslim terletak pada keteguhan tawakalnya.

 

Maulidur Rasul : Waktu Tepat untuk mengenang perjuangan serta budi agung baginda Nabi Muhammad S.A.W. Membalas cinta terhadap baginda nabi bukan hanya meraikan perayaan maulid Nabi sahaja. Seharusnya tidak berhenti pada gema shalawat atau kemeriahan sambutan yang dibuat. Lebih dari itu, Maulid adalah saat paling tepat untuk menundukkan hati dan bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah kita benar-benar membalas cinta Rasulullah S.A.W yang begitu besar?”

 

Apakah kita hanya memujinya dengan lisan, ataukah kita juga berusaha meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari? Jika Rasulullah S.A.W resah melihat umatnya tergelincir, tidakkah hati kita tergerak untuk menjaga diri dari dosa? Jika beliau menitiskan air mata demi keselamatan kita, pantaskah kita justru mengabaikan sunnahnya? Jika beliau menanggung lelah dan derita hanya agar kita terselamat, bagaimana mungkin kita masih lalai mengabaikan wasiatnya? Maulid adalah undangan bagi kita untuk menjadikan diri agarmenjadi umat yang benar-benar layak dicintai oleh Rasulullah S.A.W. 

 


Dengan meneladani akhlaknya, menjalankan ajarannya, dan berusaha menjadi hamba Allah yang soleh dan solehah, kita tidak hanya memperingati kelahiran beliau, tetapi juga menghidupkan kembali cintanya dalam setiap detak kehidupan kita. Dua ayat terakhir Surah at-Taubah menyingkap keindahan sejati peribadi Rasulullah S.A.W dekat dengan umatnya, peduli terhadap penderitaan mereka, penuh kasih sayang, dan teguh dalam tawakal.

 

Pada hari akhirat kelak, semua manusia akan dibangkitkan sebagaimana keadaan mereka dilahirkan iaitu tidak berpakaian dan dalam keadaan tidak berkhatan. Allah SWT menyatakan mengenai perkara itu menerusi firman-Nya dalam Surah al-Anbiya’, ayat 104 yang bermaksud: “Sebagaimana Kami mulakan wujudnya sesuatu kejadian, Kami ulangi wujudnya lagi sebagai satu janji yang ditanggung oleh Kami, sesungguhnya Kami tetap melaksanakannya.”

 

Di sana manusia akan diasingkan kepada dua kumpulan iaitu golongan kanan dan golongan kiri. Ketika itu, ada sekumpulan manusia dalam kalangan umat Nabi Muhammad SAW diambil oleh malaikat lalu diletakkan dalam golongan kiri. Sudah pasti yang kiri itu adalah golongan bermasalah. Ketika melihat umatnya diambil malaikat dan digolongkan dalam kumpulan kiri, Nabi Muhammad SAW berkata kepada Allah, itu adalah umatnya.

 


Seboleh-bolehnya Baginda tidak mahu sahabat serta umatnya disentuh api neraka. Allah SWT berkata, Baginda tidak tahu apa yang umatnya lakukan selepas kewafatannya. Lalu Nabi SAW berkata, ketika hidup, Baginda menjadi saksi atas Islam dan berimannya semua sahabatnya.

 

Baginda akan membaca semula ayat al-Quran yang pernah dibaca Nabi Isa. Ayat daripada Surah al-Maaidah, ayat 117 itu bermaksud: “Aku menjadi saksi terhadap mereka (dengan membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah) selama aku berada dalam kalangan mereka, kemudian apabila Engkau sempurnakan tempohku, menjadilah Engkau sendiri yang mengawasi keadaan mereka dan Engkau jualah yang menjadi saksi atas tiap-tiap sesuatu.”

 

Dalam ayat seterusnya dalam surah sama menyatakan, sekiranya Allah SWT memutuskan untuk memberi azab kepada mereka, tiada siapa yang dapat menghalang atau melawannya. Bagaimanapun, Nabi SAW tetap berusaha dan memilih untuk membaca ayat itu supaya Allah SWT mengurniakan belas ihsan kepada umatnya yang tergolong dalam kumpulan kiri itu.

 

“Jika Engkau menyeksa mereka, (maka tidak ada yang menghalanginya) kerana sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan jika Engkau mengampunkan mereka, maka sesungguhnya Engkaulah saja yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.” (Surah al-Maaidah, ayat 118)

 


Walaupun bilangan manusia ketika itu terlalu ramai, Nabi SAW tetap mengenali umatnya. Ia berdasarkan kepada anggota wuduk mereka yang bercahaya. Cerita mengenai akhirat sememangnya sangat menggerunkan. Dalam sebuah hadis daripada Saidina Abu Bakar As-Siddiq, beliau menceritakan, pada satu hari Nabi SAW membuat satu perkara pelik.

 

Nabi SAW keluar pergi ke masjid untuk menunaikan solat subuh. Selepas solat Subuh, Baginda duduk sehingga masuk waktu dhuha. Selepas menunaikan solat dhuha, tiba-tiba Nabi SAW tertawa. Perkara itu dilihat oleh sahabat Baginda. Kemudian, Nabi duduk dan tunggu sekali lagi di tempat itu sehingga Nabi solat Zuhur, Asar dan Maghrib. Sepanjang tempoh itu, Nabi tidak bercakap dengan sesiapa pun. Sehingga Nabi SAW solat Isyak, kemudian Baginda bangun dan pulang ke rumah. Sahabat kemudian bertanya kepada Abu Bakar, kenapa Nabi tidak bercakap dengan mereka sejak subuh. Lalu Abu Bakar pergi ke rumah Nabi untuk mendapatkan kepastian. Nabi Muhammad SAW menjelaskan kepada Abu Bakar, dalam tempoh itu Allah S.W.T memperlihatkan kepadanya kisah dunia dan akhirat.

 

Baginda berkata, seluruh manusia akan dihimpunkan di padang mahsyar dalam keadaan wajah mereka dalam ketakutan. Di sana keadaan matahari terpacak sejengkal di atas kepala, seluruh manusia ketika itu akan tenggelam dalam peluh masing-masing sementara menunggu masa untuk dihitung. Lalu pada ketika itu, akan ada manusia bercakap sesama mereka dan mahu mencari sesiapa yang dapat membantu untuk melepaskan diri daripada keadaan penuh seksa itu.

 


Dalam satu hadis dinyatakan, mula-mula mereka akan mencari Nabi Adam A.S untuk minta pertolongan. Ini disebabkan Nabi Adam A.S adalah bapa kepada seluruh manusia. Bagaimanapun, Nabi Adam A.S tidak dapat membantu dan mencadangkan mereka berjumpa Nabi Nuh A.S. Begitu juga dengan Nabi Nuh A.S, baginda tidak berupaya untuk menolong dan mencadangkan supaya bertemu Nabi Ibrahim A.S. Jawapan sama diberikan Nabi Ibrahim A.S yang menyatakan baginda tidak mampu memberi pertolongan. Nabi Ibrahim A.S kemudian mencadangkan mereka berjumpa Nabi Musa A.S. Jawapan sama diberikan Nabi Musa A.S kerana pada hari itu baginda turut mempunyai hal dengan Allah S.W.T. Lalu Nabi Musa A.S seterusnya mencadangkan mereka berjumpa Nabi Isa A.S.

 

Nabi Musa A.S berkata, Allah S.W.T memberikan Nabi Isa A.S banyak keistimewaan dan mukjizat antaranya mampu mencelikkan orang buta, menyembuhkan orang kena penyakit sopak dan paling hebat, baginda boleh menghidupkan orang mati atas keizinan Allah S.W.T. Bagaimanapun, apabila sampai kepada Nabi Isa A.S, baginda juga tidak boleh memberi pertolongan tetapi mencadangkan supaya berjumpa penghulu kepada seluruh manusia iaitu Nabi Muhammad S.A.W.

 

Akhirnya, apabila dapat berjumpa Nabi Muhammad S.A.W, Baginda terus berdoa kepada Allah S.W.T supaya dapat membantu umatnya. Malaikat Jibril bertemu Allah S.W.T lalu Allah memerintahkannya supaya memberitahu Nabi Muhammad S.A.W. Allah S.WT mengizinkan baginda memberikan syafaat kepada sesiapa saja. Malaikat Jibril kemudian datang berjumpa Nabi Muhammad S.A.W untuk menyampaikan hal berkenaan. Nabi Muhammad S.A.W yang mendengar berita gembira itu terus sujud sebagai tanda syukur.

 


Nabi S.A.W terharu kerana Allah S.W.T memberi peluang kepadanya memberikan syafaat serta pertolongan yang membolehkan umatnya mendapat syurga. Begitulah betapa kasih dan sayang Nabi Muhammad S.A.W kepada umatnya. Sehubungan itu, jangan sesekali kita berputus asa untuk melakukan amalan kebaikan serta mencari rahmat dan belas kasihan daripada Allah S.W.T

 

Pada hari akhirat nanti, semua umat ingin mendapat syafaatnya, ingin berada dalam barisannya, ingin dipanggil dengan penuh kasih: “Umatku.” Maka jangan biarkan cinta itu hanya jadi cerita. Wujudkan dalam iman, amal, dan akhlak. Karena tidak banyak yang tahu dan sering kali kita lupa bahwa ada satu manusia yang tidak pernah berhenti memikirkan kita, bahkan di saat kita melupakannya. Dialah Rasulullah.., Muhammad S.A.W, cahaya kasih sayang yang tidak pernah padam sampai ke akhirnya… Allahumma solli ‘ala saidina Muhammad :”)

Tuesday, August 11, 2026



Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita solehah…

[Riwayat al-Muslim, al-Nasai, Ibn Majah]



Kewajipan Memakai Tudung untuk Menutup Aurat...

 

Dalil mewajibkan menutup aurat kepala terutamanya rambut dan leher bagi wanita jelas disebutkan dalam nas-nas syara'. Mengingkarinya tanpa alasan yang munasabah boleh membawa kepada penolakan terhadap syariat yang jelas dan muktamad.

 


Wanita wajib menutup aurat dengan melabuhkan tudung kepalanya berdasarkan firman Allah S.W.T:


وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ


Maksudnya: "Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya mereka menundukkan pandangan mereka, dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka melabuhkan kain tudung mereka ke dada mereka."

Surah an-Nur (31)


Memakai tudung sama sekali tidak membataskan kebebasan wanita muslimah dalam melaksanakan peranan serta tanggungjawab mereka dalam sebarang bidang. Sebaliknya, pensyariatan ini wajar difahami sebagai suatu bentuk pemeliharaan terhadap akhlak, maruah dan keselamatan wanita muslimah. Ini jelas berdasarkan firman Allah S.W.T:


يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا


Maksudnya: “Wahai Nabi, suruhlah isteri-isterimu dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan yang beriman, supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu. Dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”

Surah al-Ahzab (59)

 


Meskipun pelaksanaan syariat sering berdepan dengan pelbagai cabaran, khususnya dorongan hawa nafsu, namun Allah S.W.T tetap menjanjikan kemudahan dan pertolongan bagi hamba-Nya yang berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan agama-Nya sebagaimana firman-Nya:


وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ


Maksudnya: “Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keredhaan); dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah berserta orang-orang yang berusaha membaiki amalannya.”

Surah al-‘Ankabut (69)


Memakai tudung bukan sekadar simbol penampilan seorang wanita muslimah, tetapi merupakan kewajipan agama yang mesti dipatuhi. Ia melambangkan ketaatan kepada perintah Allah S.W.T serta berperanan menjaga maruah dan kehormatan diri. 


Pada masa yang sama, kewajiban ini turut membantu memelihara ketenteraman masyarakat dengan mengelakkan perkara-perkara yang boleh menimbulkan gangguan atau kerosakan sosial.


Dalam hal ini, wanita yang diuji dengan rasa ingin membuka tudung atau memilih jalan yang dianggap “antara dia dengan Tuhannya” perlu dibimbing dengan penuh hikmah dan kasih sayang. 


Keluarga, sahabat, dan masyarakat sekeliling memainkan peranan penting untuk menasihati, menyokong, dan mendoakan agar dia terus kuat dalam ketaatan, bukannya menjauh atau menghukum. Sesungguhnya, kasih sayang dan bimbingan yang berterusan akan menjadi salah satu wasilah untuk seseorang kembali istiqamah menutup aurat sebagai tanda ketaatan kepada Allah S.W.T.



Jika berabad lalu wanita dipandang seperti barangan yang rendah nilainya, kini wanita bukan sahaja seiring dengan golongan lelaki, adakalanya kedudukannya menandingi golongan lelaki. 


Jika pada zaman arab Jahiliyyah dahulu, wanita hanyalah sebagai alat hiburan, alat pemuas nafsu bagi kaum lelaki , tidak diberi hak yang sepatutnya dan dipandang sebagai sesuatu yang membawa sial sehingga anak perempuan di tanam hidup-hidup. Akan tetapi ,dengan kedatangan Islam, martabat wanita atau Muslimah telah diangkat dan hak mereka dikembalikan.


Namun, Islam telah menggariskan panduan yang perlu diikuti oleh golongan Muslimah. Antaranya, hendaklah golongan Muslimah ini menjaga akhlak, dan memelihara maruah mereka seperti yang termaktub dalam al-Quran : 


“Katakan kepada wanita beriman, hendaklah mereka memelihara pandangan kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka melabuhkan tudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasan (auratnya) kecuali kepada suami…..” [an-Nur:31]. Berdasarkan ayat tersebut, Islam telah meletakkan satu garis panduan yang perlu dipatuhi oleh golongan Muslimah agar martabat mereka tidak tercalar.


Malangnya, keadaan pada hari ini dilihat jauh berbeza. Muslimah kini seolah-olah lupa pada sejarah terdahulu, tentang bagaimana golongan mereka dipandang hina. Mereka dengan sengaja telah menyingkap kembali tabir silam. 


Terdapat Muslimah pada hari ini bukan sahaja telah menjatuhkan martabat mereka yang telah diangkat dengan kedatangan Islam malah, tanpa disedari mereka sedang menghancurkan martabat tersebut.


Keadaan ini terbukti apabila golongan ini tanpa segan silu berpakaian ketat, mendedahkan susuk tubuh mereka, dan bercampur bebas dengan lelaki ajnabi. Adab-adab sebagai seorang Muslimah tidak lagi dipedulikan, kononnya untuk mengikuti peredaran zaman dan  agar tidak dipandang kolot.



Muslimah hari ini perlu sedar, kecantikan yang dianugerahkan bukan untuk tontonan umum, sebaliknya kecantikan tersebut perlu dipelihara dan dilindungi agar tidak hilang serinya. 


Justeru, golongan Muslimah perlu berhati-hati dengan istilah-istilah yang boleh merosakkan jati diri mereka seperti istilah ‘kebebasan, kemodenan, dan persamaan hak’. Sebaliknya, Muslimah hendaklah bijak menyesuaikan diri dengan keadaan ini tanpa perlu mengorbankan prinsip sebagai seorang wanita solehah.


Dalam meniti arus kemodenan dan globalisasi yang menghimpit kehidupan seharian manusia sudah pasti soal penjagaan aurat wanita menjadi suatu cabaran yang agak sukar dengan lambakan fesyen terkini yang pelbagai dan tidak mematuhi syariah. 


Aurat bukan sekadar menutup dengan sempurna tetapi ia juga melambangkan identiti,maruah serta ketaatan dan kepatuhan kita sebagai seorang muslimah dalam mematuhi ajaran Islam.

 


Mengapa Aurat Perlu Di Jaga ?

  • Menjaga maruah dan kehormatan wanita
  • Terjaga daripada fitnah
  • Ketaatan terhadap perintah Allah S.W.T
  • Keindahan akhlak seorang wanita

Islam telah meletakkan garis panduan aurat wanita mengikut situasi dan keadaan :

  • Dengan bukan mahram : Seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan
  • Ketika Solat : Kecuali muka dan telapak tangan


Tuntasnya,Islam tidak melarang wanita untuk tampil cantik dan bergaya dengan berfesyen tetapi  mesti dibatasi syariat yang telah ditetapkan di dalam Islam. Ianya adalah lambang kemuliaan kepada seorang wanita.

 

Menutup aurat bagi wanita Muslimah bukan sekadar isu pakaian, tetapi ia adalah perintah agama, tanda keimanan, dan cerminan akhlak mulia. Ia melibatkan keikhlasan hati untuk patuh kepada perintah Allah dan menjaga kesucian diri. Dalam dunia moden hari ini, menjaga aurat mungkin mencabar, tetapi ia tetap menjadi kewajipan yang tidak berubah mengikut zaman. Aurat adalah amanah yang perlu dijaga, bukan beban.



Sebagai penutup, menutup aurat adalah kewajiban yang harus dijalankan dengan kesedaran penuh, dilandasi niat mencari keredhaan Allah S.W.T. Hal ini adalah bentuk kemuliaan tertinggi bagi perempuan, menempatkannya pada posisi yang terhormat dan terjaga. 


Semoga Allah akan sentiasa memberikan hidayah dan kesabaran yang tinggi dalam menjalankan tanggungjawab dan amanah sebagai hambaNya di muka bumi ini. InsyaAllah.... Allahumma solli 'ala saidina Muhammad :")

Tuesday, August 4, 2026

Iblis dan syaitan , musuh utama umat manusia....

Kekuatan iman dan amal benteng hadapi godaan Iblis dan syaitan...


Kita sering terbaca berita yang dipaparkan mengenai peperangan dan pertelingkahan yang berlaku di segenap pelosok dunia. Namun, semua pertelingkahan ini tidak sehebat apa yang berlaku terhadap peperangan melawan godaan Iblis dan syaitan. 


Ia terpaksa dihadapi lebih daripada berbilion umat manusia dalam melawan musuhnya yang satu dalam pelbagai watak. Firman Allah S.W.T: “Sesungguhnya syaitan adalah musuh bagi kamu, maka jadikanlah ia musuh yang sebenar kerana dia mengajak golongannya supaya menjadi ahli neraka.”

 



Nabi Adam A.S selaku makhluk yang istimewa ciptaan Allah S.W.T adalah insan yang pertama menghadapi godaan ini. Keistimewaan inilah yang mengundang dendam daripada Iblis yang juga sebelum ini penghulu kepada malaikat. 


Penderhakaan yang dilakukan iblis terhadap Allah S.W.T menyebabkan ia dilaknat dan diusir dari syurga. Di sinilah bermulanya permusuhan Iblis terhadap umat manusia yang membawa kepada sumpahan untuk menyesatkan umat manusia.

 

Firman Allah S.W.T bermaksud: “Syaitan memujuk mereka dengan tipu daya. Maka jelaslah pengaruh syaitan itu dan Allah mengingatkan mereka mengenai larangan itu dan permusuhan bagi mereka berdua. (Adam dan Hawa).

(Surah Al-A’raf ayat 22).

 

Firman Allah S.W.T: “Iblis berkata: “Tuhanku, oleh kerana Engkau memutuskan bahawa aku tersesat, maka aku akan memastikan bahawa kesesatan ini akan menjadi perhiasan umat manusia seluruhnya.” (Surah Hijr ayat 39).



Oleh yang demikian, sifat dendam ini perlu dikikis daripada minda dan hati manusia kerana ia adalah hasutan  Iblis dan syaitan yang hanya merugikan umat manusia dan akan memusnahkan harta benda, malah nyawa yang tidak berdosa. 


Iblis dan syaitan juga berupaya menyuntik perasaan dendam, iri hati, angkuh, bongkak, tamak haloba, pentingkan diri sendiri dan semua sifat mazmumah (keji) yang lain bagi merealisasikan tugasnya menyesatkan umat manusia. 


Benteng yang kukuh perlu dibina dan dibentuk bagi menghalang pengaruh godaan Iblis dan syaitan kerana semangat tipu daya yang dimilikinya tidak pernah luntur sehingga hari kiamat.

 

Kita mestilah menjadikan Iblis dan syaitan sebagai musuh yang sebenar dan perlu diperangi. Permusuhan ini perlu diterjemahkan dengan meninggalkan perkara yang keji dan mungkar. Ilmu dan amalan yang benar perlu dipersiapkan di samping sentiasa berwaspada terhadap kelemahan diri kita sendiri. 


Manusia mukmin juga perlu sentiasa beristiqamah dengan jalan yang lurus dan diredhai Allah S.W.T. Ia juga benteng menghindarkan tipu daya Iblis dan syaitan.  Hati kita hendaklah tetap teguh dengan jalan itu walaupun akan datang suara wakil dari syaitan yang sentiasa memujuk agar kita terpesong daripada jalan yang lurus.

 

Firman Allah S.W.T: “Inilah jalan Tuhanmu yang lurus dan janganlah kamu menuruti jalan lain yang akan menyesatkan kamu.” 

(Surah al-An 'am ayat 153).

 

Firman-Nya: “Syaitan itu hanya akan mengajak golongannya menuju neraka yang menyala.”

(Surah al-Fatir ayat 6).


Di samping itu juga, doa yang bersifat konsisten serta tahap tawakal yang tinggi kepada Allah S.W.T juga boleh membantu menghindarkan gangguan. Jadikan Allah S.W.T sebagai tempat untuk kita menyerahkan segala urusan berbekalkan usaha yang ikhlas dan bersungguh-sungguh.

 

Firman Allah S.W.T bermaksud: “Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah sedangkan Dia menunjukkan jalan kepada kami. Kami tetap bersabar terhadap ujian dan hanya pada-Nya kami bertawakkal”.

(Surah Ibrahim ayat 12).


Kita hendaklah sentiasa mengingati Allah S.W.T yang menjadikan kita sebagai khalifah berpandukan kitab yang diturunkan sebagai panduan dan pedoman.

 


Firman Allah S.W.T: “Sesiapa yang berpaling dari mengingati Allah, maka kami akan membiarkan syaitan untuk menyesatkannya. Mereka akan terhalang dari jalan yang lurus dan menyangka mereka adalah orang yang benar.”

(Surah Zukhruf ayat 36 dan 37).

 

Inilah satu penyakit yang melanda umat kini yang mana semua pihak menyatakan bahawa mereka berada pada landasan yang benar. Maka neraca yang sebenar ialah merujuk kepada Allah dan Rasulnya.


Kita juga mestilah menjauhi orang lalai dan leka diulit keindahan serta kesibukan dunia sehingga lupa urusan kewajipan yang akan menyelamatkan mereka pada hari kemudian.

 

Berdampingan dengan seseorang individu atau kumpulan yang rosak juga dapat mempengaruhi diri terjebak sama dalam godaan syaitan yang mana kita sentiasa melihat contoh dilakukan dan terkesan daripada segala tidak tanduk mereka.

 

Firman Allah S.W.T:

“Ketika orang yang kita ikut dulu berlepas diri ketika melihat azab Allah, barulah disedari bahawa hubungan terputus dan semuanya akan dipersoalkan. Pengikut berkata: “Kalaulah kami dapat kembali ke dunia, nescaya kami akan jauhi mereka seperti apa yang mereka lakukan pada hari ini.”

(Surah al-Baqarah ayat166).

 


Nabi Nuh A.S berdakwah sepanjang hari, siang dan malam, dengan berbagai cara. Akan tetapi, sedikit sahaja yang menerima dakwah baginda melainkan hanya beberapa gelintir orang-orang terpilih. 


Bahkan isteri dan anaknya ikut tenggelam dalam banjir besar yang menggunung, sebagai balasan atas kekufuran mereka di dunia dan kelak ditambah dengan seksa di neraka.

Saat melihat bekas-bekas banjir itulah, Nabi Nuh A.S melihat Iblis.  Keduanya terlibat dalam sebuah dialog.

“Engkau,” kata Nabi Nuh A.S kepada Iblis, “engkau telah membinasakan umat manusia.” Lanjutnya, “Mereka tenggelam karana tipu daya engkau .”

“Lalu,” jawab Iblis, “apa yang harus aku lakukan?”

“Bertaubatlah,” perintah Nabi Nuh A.S yang langsung dijawab oleh Iblis, “Apakah taubatku akan diterima?” Iblis pun melanjutkan, “Berdoalah kepada Tuhanmu!”


Iblis menuturkan, “Nabi Nuh A.S pun berdoa. Lalu Allah S.W.T memberitahukan cara taubatnya Iblis.”

“Engkau,” terang Nabi Nuh A.S kepada Iblis, “telah diberi kesempatan untuk bertaubat.”

“Caranya?” sambar Iblis bertanya.

“Sujudlah (sebagai tanda hormat, bukan penghambaan) kepada kubur Nabi Adam A.S.” jelas Nuh A.S

Mendengar penjelasan Nabi Nuh A.S, Iblis pun marah besar. “Aku tidak bersujud (sebagai tanda hormat) kepadanya saat Adam masih hidup, lalu bagaimana pula aku ingin bersujud kepadanya saat ia telah mati?!”

Riwayat oleh Imam Abu Dunya dalam Makayid asy-Syaithan yang dikutip oleh Syeikh Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam bukunya "Agar Tidak Diperdaya Syaitan".



-Dinukilkan dalam kitab Gharaib wa ‘Ajaib al-Jin karya Qadi Syekh Badruddin bin Abdullah as-Syibli.  


Kisah dialog Nabi Musa A.S dengan Iblis yang hendak bertaubat berikut ini, menjelaskan secara  tiga hal yang perlu kita waspada. Di mana tiga hal tersebut berpotensi besar membawa keterlibatan Iblis dan syaitan. 


Abdurrahman bin Ziyad mengisahkan, suatu saat ketika Nabi Musa A.S sedang berkumpul dalam majlis ilmu, tiba-tiba Iblis yang sedang memakai penutup yang dipakai untuk membaca beragam mantera telah datang.


Ketika Iblis mendekati di majis tersebut, ia melepas penutup dan menyapa Nabi Musa A.S.

“Assalamualaika, wahai Musa.”

“Siapa engkau,” kata Musa. 

“Iblis.”

“Baik, Allah  S.W.T tidak akan melindungimu. Apa gerangan membuat engkau datang kemari?” tanya Nabi Musa. A.S

“Aku ingin menyerah di hadapan engkau, sebab kedudukan engkau yang mulia di hadapan Allah S.W.T,” ujar Iblis.

“Benda apa yang aku lihat di atas kepala engkau?” tanya Nabi Musa A.S lagi. 

“Alat inilah yang aku pakai untuk merebut hati keturunan anak cucu Adam,” jawab Iblis. 


Kesempatan ini pun lantas dipergunakan Nabi Musa A.S untuk mengorek rahsia di balik strategi Iblis dan syaitan untuk menggoda umat manusia. 


“Perkara apa yang dilakukan manusia dan membuat mudah engkau menguasainya?" tanya Nabi Musa A.S

“Saat manusia diselimuti rasa bangga terhadap dirinya sendiri, sombong, dan saat ia lupa terhadap dosa-dosanya,” jawab Iblis. 


Iblis kembali mengutarakan perkara penting kepada Nabi Musa A.S, "Dan aku peringatkan engkau akan tiga hal, iaitu pertama janganlah berkhalwat dengan perempuan yang tidak halal, tidaklah hal ini terjadi, kecuali aku langsung yang akan menggoda, bukan tentera-tenteraku (syaitan), hingga aku selesai menyesatkan keduanya."


"Kedua, dan janganlah engkau mudah membuat janji kecuali engkau mampu menepatinya. Tidaklah hal demikian terjadi, hingga aku akan berupaya menjauhkan engkau  dengan janji itu," lanjut Iblis. 


"Ketiga, ketika bersedekah ikhlaskanlah. Tidaklah seseorang bersedekah, kecuali aku akan hadir dan mengganggunya langsung, setelah itu aku serahkan ke tentera-tenteraku (syaitan).”


Setelah memberitahukan tiga perkara ini, Iblis pun berlalu meninggalkan Nabi Musa dan bergumam perlahan; "Celakalah! (hingga tiga kali). Musa mengetahui perkara yang harus diwaspadai keturunan cucu cicit Adam sekarang ini.



Nabi Musa AS adalah salah seorang nabi ulul azmi yang mempunyai kelebihan dan kesabaran yang tinggi. Firman Allah SWT:

 

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَلَا تَكُن فِي مِرْيَةٍ مِّن لِّقَائِهِ ۖ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ ﴿٢٣﴾‏ وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Maksudnya: “Dan demi sesungguhnya! Kami telah memberi kepada Nabi Musa Kitab Taurat (sebagaimana Kami berikan Al-Quran kepadamu wahai Muhammad), maka janganlah engkau ragu-ragu menyambut dan menerimanya; dan Kami jadikan Kitab Taurat itu hidayah penunjuk bagi kaum Bani Israil....


Dan Kami jadikan dari kalangan mereka beberapa pemimpin, yang membimbing kaum masing-masing kepada hukum ugama Kami, selama mereka bersikap sabar (dalam menjalankan tugas itu) serta mereka tetap yakin akan ayat-ayat keterangan Kami.”

(Surah al-Sajdah: 23-24)


Kisah ini disebutkan oleh al-Suyuti dalam al-Durr al-Manthur (1/115) dengan menisbahkannya kepada Ibn Abi al-Dunya dalam Maka'id al- Syaitan (hlm. 65), daripada Ibn 'Umar R.Anhuma, katanya: Iblis bertemu dengan Nabi Musa A.S lalu dia berkata, 'Hai Musa, engkau orang yang dipilih oleh Allah untuk memikul risalah-Nya dan Allah telah berbicara denganmu secara langsung. ..


Aku ini termasuk salah satu makhluk Allah, aku telah berbuat dosa dan aku ingin bertaubat. Mohonkanlah syafaat untukku kepada Rabb-ku agar Dia berkenan menerima taubatku. Kemudian Musa A.S memohon kepada Rabb-nya, maka dijawab, "Wahai Musa, Aku telah memenuhi keperluanmu."


Lalu Musa A.S menemui Iblis dan berkata kepadanya, "Sesungguhnya kamu diperintahkan untuk bersujud kepada kubur Adam maka taubatmu akan diterima. Iblis bersikap sombong dan marah, seraya berkata, "Aku tidak mahu bersujud kepadanya ketika dia masih hidup, lalu apakah aku akan bersujud kepadanya ketika dia sudah mati?"


Iblis melanjutkan perkataannya, "Wahai Musa! Kamu mempunyai hak kerana kamu telah memohonkan syafaat untukku kepada Rabb-mu. Ingatlah aku dalam tiga keadaan, sebab aku tidak akan membinasakanmu pada tiga keadaan itu:


Ingatlah aku ketika kamu sedang marah, kerana aku mengalir di dalam darahmu.


Ingatlah aku ketika kamu pergi ke medan perang, kerana sesungguhnya aku datang kepada anak keturunan Adam ketika dia berangkat ke medan perang, lalu aku mengingatkan dia akan anaknya, isterinya, dan keluarganya, hingga akhirnya dia berpaling meninggalkan medan perang.


Berhati-hatilah bila duduk dengan seorang perempuan yang bukan mahrammu, kerana sesungguhnya aku menjadi utusannya kepadamu dan menjadi utusanmu kepada dirinya.


Kisah ini turut disebut oleh Ibn 'Asakir dengan sanadnya dalam Tarikh Dimasyq (61/128), sepertimana disebut juga oleh al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din (3/32), Ibn al-Jauzi dalam Talbis Iblis (hlm. 29), Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Zawajir 'an Iqtiraf al-Kaba'ir (1/140), Abu al-Laith al-Samarqandi dalam Tanbih al-Ghafilin (hlm. 206), dan al-Syibli dalam Akam al-Marjan fi Ahkam al-Jan (hlm. 271),




Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi, pada suatu waktu Allah, S.W.T memerintahkan Iblis agar segera bertemu dengan Nabi Muhammad S.A.W. Iblis diamanahkan untuk menjawab segala pertanyaan dari Nabi Muhammad S.A.W.

Sejurus kemudian, Iblis langsung berubah menjadi seorang lelaki tua dan menghadap kepada baginda Nabi Muhammad S.A.W.

Nabi S.A.W bertanya, "Siapa engkau?"

"Aku Iblis.”

"Untuk apa engkau menemuiku?” tanya Nabi kemudian.

"Sesungguhnya Allah S.W.T menyuruhku untuk bertemu denganmu dan menjawab semua persoalan yang nanti ingin kau ajukan,” kata Iblis.

Nabi pun langsung bertanya kepada Iblis.

“Kalau begitu wahai zat yang terkutuk, berapakah jumlah musuhmu dari kalangan umatku?”

Iblis menjawab, “Ada lima belas. Pertama, "Engkau." Kedua, "pemimpin yang adil." Ketiga, orang "kaya yang rendah hati". Keempat, "pedagang yang jujur". Kelima, "orang berilmu yang khusyuk".

Keenam, "orang beriman yang suka memberi nasihat". Ketujuh, "orang mukmin yang memiliki hati yang penuh dengan rasa kasih sayang". 

Kelapan, "orang bertaubat yang istiqamah dalam taubatnya". Sembilan, "orang yang menjaga diri dari perkara-perkara yang haram". Sepuluh, "mukmin yang selalu dalam keadaan suci.:

Sebelas, "mukmin yang banyak bersedekah". Dua belas, "mukmin yang berbuat baik kepada orang lain". Tiga belas, "mukmin yang bermanfaat bagi banyak manusia." 

Empat belas, "orang yang menghafal Al-Qur'an dan istiqamah membacanya." Lima belas, "orang yang mendirikan solat malam, sedangkan yang lain tertidur."

Setelah itu Nabi kembali bertanya, "Lalu siapa kawanmu dari golongan umatku?"

“Ada sepuluh golongan. Pertama, "pemimpin yang zalim". Kedua, "orang kaya yang sombong". Ketiga, "pedagang yang menipu". 

Keempat, "orang yang suka mabuk-mabukan". Kelima, "pembunuh". Keenam, "pezina." Ketujuh, "orang yang suka memakan harta anak yatim". 

Kelapan, "orang yang meremehkan salat". Sembilan, "orang yang enggan mengeluarkan zakat." Sepuluh, "orang yang suka berangan-angan." Mereka semua adalah teman dan sahabatku,” jawab Iblis.

Begitulah kisah dari Rasulullah S.A.W yang boleh kita ambil hikmahnya. Hadis yang juga ditulis dalam kitab Tanbihul Ghafilin oleh Imam Abu al-Lasyt as-Samarqandi tersebut tentu menjadi pelajaran berguna bagi kita.




Berikut beberapa riwayat yang menceritakan pertemuan Nabi Isa A.S dengan Iblis.


Abu Bakar bin Abi Dunya meriwayatkan, dari Suraij bin Yunus, dari Ali bin Tsabit, dari Khaththab bin Qasim, dari Abu Utsman, ia berkata,

“Pada suatu kali Nabi Isa A.S melakukan solat di sebuah puncak gunung, lalu Iblis datang kepadanya dan berkata, ‘Bukankah kamu orang yang mengira bahwa segala sesuatu terjadi menurut qada' dan qadar?’ Isa menjawab, ‘Benar sekali.’ 

Lalu Iblis berkata, ‘Jika begitu, maka lemparkanlah dirimu dari atas gunung ini, dan katakanlah bahwa itu telah ditakdirkan untukmu.’ Isa menjawab, ‘Wahai makhluk yang terlaknat, Allah-lah yang menguji hamba-Nya bukan hamba yang menguji Tuhannya.”

Nabi Isa A.S dan Iblis di Baitul Maqdis

Dari Abdul Hasan bin Razqawih, dari Abu Bakar Ahmad bin Sindi, dari Abu Muhammad Hasan bin Ali Al-Qaththan, dari Ismail bin Isa Al-Aththar, dari Ali bin Ashim, dari Abu Salamh Suwaid dari salah satu sahabatnya, ia berkata,

“Ketika Isa bin Maryam baru saja selesai melaksanakan solat di Baitul Maqdis dan hendak keluar, tiba-tiba Iblis mencegahnya dan menahan Isa untuk melanjutkan langkahnya. Lalu Iblis mengisyaratkan bahwa ia ingin bicara dengan Isa dan berkata, “Kamu tidak mungkin hanya seorang hamba.”

Iblis berbicara panjang lebar hingga membuat Isa harus menunggunya sampai ia selesai bicara. Namun, setelah sekian lama menunggu, Iblis tidak juga selesai dari pembicaraannya yang intinya adalah menyatakan bahwa Isa adalah bukan seorang hamba. Kemudian Nabi Isa A.S pun meminta tolong kepada Tuhannya.

Turunlah malaikat Jibril dan Mikail dari atas langit. Namun, setelah melihat kedua malaikat itu turun, Iblis langsung menghentikan pembicaraannya. Setibanya kedua malaikat itu di sana, malaikat Jibril langsung memukul Iblis dengan sayapnya, Iblis pun terlempar hingga ke perut lembah. Namun, Iblis kembali lagi, karena ia yakin kedua malaikat itu hanya diperintahkan untuk memukulnya seperti itu.

Iblis pantang menyerah dan berkata lagi kepada Nabi Isa A.S, “Aku telah memberitahukan kepadamu, bahwa kamu ini tidak pantas jika hanya menjadi seorang hamba, kerana ketika aku melihatmu sedang marah, ternyata kemarahanmu itu bukanlah seperti kemarahan seorang hamba. Aku hanya ingin menawarkanmu sesuatu, aku akan menyuruh semua syaitan untuk tunduk kepadamu dan taat segala perintahmu.

Apabila manusia lain melihat bagaimana syaitan-syaitan itu patuh atas setiap perintahmu, maka mereka pasti akan menyembahmu. Aku tidak mengatakan bahwa hanya kamulah yang menjadi Tuhan dan tidak ada Tuhan lainnya. Tapi bisa dikatakan Allah menjadi Tuhan di langit, dan kamu menjadi Tuhan di bumi.”

Setelah Nabi Isa A.S mendengar perkataan Iblis itu, baginda kembali meminta pertolongan dari Allah S.W.T, Ternyata, sesaat kemudian malaikat Israfil telah menjejakkan kakinya di atas bumi. Malaikat Israfil kemudian memukul iblis dengan sayapnya hingga terlempar ke sumber panas matahari.

Tak berhenti sampai disitu, Malaikat Israfil kemudian memukul Iblis lagi untuk kedua kalinya, Namun, Iblis masih saja turun ke bumi dan menemui Isa yang masih terpaku di tempatnya, lalu ia berkata, “Wahai Isa, hari ini aku merasa sungguh payah sekali bertemu denganmu.”

Malaikat Israfil kembali melemparkan Iblis ke perut matahari, dan di sana sudah menunggu tujuh malaikat lainnya yang selalu membenamkan iblis setiap kali hendak keluar. Dikatakan bahwa setelah itu Iblis tak pernah lagi menemui Nabi Isa A.S.

Sumber: Buku Kisah Para Nabi – Imam Ibnu Katsir



Berkata Nabi Yahya A.S : "Kamu bohong! Jangan kamu nasihati aku, tetapi beritahu padaku tentang anak-cucu Adam."

Iblis berkata; "Mereka di sisi kami ada 3 golongan. Adapun satu golongan dari mereka, mereka adalah golongan yang sangat kuat terhadap kami, sehingga kami mengujinya dan berjaya menguasainya, kemudian dia menghilangkannya dengan istighfar dan bertaubat. 

Maka dia merosakkan segala usaha kami, kemudian kami bersedia padanya maka dia juga bersedia, dan kami tidak memperolehi darinya apa-apa dari hajat kami. Maka kami padanya dalam keadaan bermasalah.

Golongan yang kedua, mereka dalam genggaman kami sepertimana bola di tangan anak-anak kalian, boleh dimainkan bila-bila masa yang kami mahu. Mereka ini cukup bagi kami.

Sedangkan golongan yang terakhir, mereka seperti kamu yang ma'sum. Kami tidak berupaya suatu apa pun ke atas mereka."

Berkata Nabi Yahya A.S tentang itu, "Adakah kamu berupaya sesuatu dariku?"

Iblis berkata, "Tidak, melainkan hanya sekali. Iaitu ketika kamu sedang makan, kamu tidak merasa puas, sehingga kamu makannya sebanyak yang kamu mahu, hingga kamu tidur malam itu kamu tidak melakukan solat malam sepertimana yang kamu biasa lakukan."

Maka Nabi Yahya A.S  berkata padanya, "Tidak akan aku buat silap lagi dan kenyang dari makananku buat selamanya."

Berkata Iblis; "Tidak akan aku buat silap lagi, dan tidak aku nasihati lagi nabi selepasmu."


Diriwayatkan oleh Ahmad dalam az-Zuhd, dan al-Baihaqi dalam Syu'bul Iman dari Tsabit al-Banani dia berkata, "Diceritakan kepada kami bahawa Iblis menjelma pada Yahya bin Zakariya dan memperlihatkan kepadanya barang-barang tergantung dari setiap sesuatu.

 

Berkata  Nabi Yahya A.S, "Hai Iblis, apakah dia barang-barang tergantung yang aku lihat padamu itu?"

Iblis berkata; "Ini adalah syahwat yang aku dapati dari anak-cucu Adam."

Nabi Yahya berkata; "Adakah aku juga ada?"

Iblis berkata; "Tidak."

Nabi Yahya berkata; "Maka adakah kamu dapat sesuatu dariku?"

Iblis berkata; "Mungkin ketika kamu kekenyangan kami beratkan kamu dari mengerjakan solat dan zikir."

Nabi Yahya berkata, "Adakah selain itu lagi?"

Iblis berkata; "Tidak."

Nabi Yahya berkata; "Demi Allah, aku tidak akan memenuhkan perutku dengan makanan buat selamanya."

Iblis berkata; "Demi Allah, aku tidak akan menasihati seorang Muslim buat selamanya."



Kesimpulannya, Iblis dan syaitan adalah musuh kita yang sebenar yang perlu diperangi kerana ia mempunyai sekutu dalam kalangan manusia dan jin yang berperanan untuk menyesatkan manusia. Menurut Ibnu Jarir, syaitan akan menggoda dari setiap jalan. Jika itu jalan kebaikan, maka syaitan akan menghalangnya. Jika itu jalan kemungkaran, syaitan sentiasa menghiasinya di mata mereka..


Nabi Muhammad S.A.W. bersabda, “Sesungguhnya syaitan menghalangi anak Adam dengan segala cara.” (HR Ahmad).


Syaitan tidak pernah berputus asa untuk menggoda umat manusia. Jika tidak berjaya diajak kufur, manusia akan diajak untuk melakukan maksiat, dari dosa besar hingga dosa kecil... Jika tidak berjaya, Ia tidak akan membiarkan manusia melakukan pelbagai kebaikan. Namun sebaliknya, Ia memasukkan sifat bangga diri (ujub), menunjuk-nunjuk (riak dan sum'ah) sehingga kebaikan yang dilakukan akan hilang nilainya di hadapan Allah..




Tidak cukup dengan itu, syaitan juga berusaha memperdayakan manusia dengan pelbagai kebaikan dan amalan. Ini menjadikan mereka melalaikan amalan yang lebih besar. 


Manusia sibuk mengejar fadhilat (keutamaan), tetapi membuat mereka lupa tentang farîdhah (kewajipan). Mereka sibuk mengerjakan suatu kewajipan, tetapi melalaikan kewajipan yang lain.


Al Hasan bin Shalih rahimahullah berkata, “Sesungguhnya syaitan boleh membuka 99 pintu kebaikan untuk membawa kepada 1 pintu keburukan yang dia inginkan.” (Al Muntaqa an Nafis min Talbis Iblis, hal 63). 


Kekuatan benteng yang dibina untuk melindungi godaan syaitan dapat dinilai menerusi sudut komitmen kita terhadap hukum Allah S.W.T. Kadar kekuatan kita dapat diukur melalui kekuatan hubungan kita dengan Allah S.W.T.

 

Semoga kita dapat meningkatkan keimanan kita dan ketakwaan terhadap Allah S.W.T kerana dengan iman, ilmu dan amal kebajikan yang mampu menjadi benteng dalam diri daripada terjerumus ke dalam hasutan Iblis dan Syaitan Laknatullah ini… Allahumma solli ‘ala saidina Muhammad :”)