Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, namun merupakan
madrasah besar yang mendidik keimanan seseorang hamba. Melalui puasa, seorang
muslim dilatih untuk ikhlas dalam beribadah, mendekatkan diri kepada Allah
dengan doa, serta menumbuhkan keyakinan akan hari akhirat, syafaat, dan
ampunan-Nya. Inilah hikmah agung Ramadhan: iman yang tumbuh, hati yang bersih,
dan harapan besar untuk keselamatan pada hari akhirat.
Rasulullah S.A.W memberikan
khabar gembira kepada para sahabat beliau :
ِ«قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ
مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ
الْجَنَّةِ، وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ
الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا
فَقَدْ حُرِمَ»
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan
yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya.
Pada bulan ini pintu-pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaitan-syaitan
dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu
bulan. Sesiapa saja yang terhalang dari kebaikan malam itu, sungguh ia
benar-benar terhalang dari kebaikan yang besar.”
(HR. An-Nasā’i)
Setelah Rasulullah S.A.W mengabarkan
keagungan dan kemuliaan bulan Ramadhan iaitu dibukanya pintu syurga, ditutupnya
pintu neraka, dan dibelenggunya syaitan-syaitan, maka pertanyaan penting bagi
kita adalah apa hikmah yang seharusnya lahir dari ibadah puasa di bulan yang
agung ini?
Di antara hikmah terpenting dari ibadah puasa adalah tentang keimanan.
1. Ramadhan mendidik Iman melalui keikhlasan
Salah satu impak terbesar dari ibadah puasa adalah tumbuhnya keikhlasan.
Keikhlasan merupakan hikmah yang diraih seorang muslim dari ibadah puasanya.
Hal ini kerana puasa adalah ibadah yang bersifat tersembunyi, hanya antara
seorang hamba dengan Rabb-nya. Puasa mendidik seorang mukmin untuk mentauhidkan
Allah dan mengikhlaskan seluruh amal hanya kepada-Nya semata-mata, tanpa
menyekutukan-Nya dengan apa pun.
Allah S.W.T berfirman dalam hadits qudsi:
ِ«إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا
أَجْزِي بِهِ، إِنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِي»
“Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya kerana Aku.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ikhlas adalah memurnikan niat ibadah hanya untuk Allah, membersihkan amal
dari keinginan dipuji manusia, serta menyelaraskan antara zahir dan batin tanpa
mencari pengakuan selain dari-Nya.
Keikhlasan dibicarakan dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan
Muslim, Rasulullah S.A.W bersabda
tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat,
ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di antara mereka adalah :
ِوَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا،
حَتَّىٰ لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
“Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya,
sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan
kanannya.”
Pada zaman mutakhir ini, sifat riya’ sering hadir dengan wajah yang halus dan terlihat “biasa”. Di antaranya :
- - - Beribadah lalu dipamerkan di media sosial, seperti menunjukkan sedekah, infak, atau kegiatan masjid agar mendapat pujian dan pengiktirafan.
- - Mempamerkan ibadah dengan tujuan penceritaan, bukan untuk mengajak kebaikan, tetapi agar dianggap insan yang paling baik.
- - . Merasa kecewa ketika amal tidak mendapat respon, like atau pujian, padahal seharusnya keredhaan Allah sahaja yang dicari.
Inilah bentuk riya’ di zaman digital: amal dilakukan, tetapi hati sibuk
menunggu penilaian dan pengiktirafan manusia.
2. Ramadhan Menguatkan Iman dengan kedekatan kepada Allah S.W.T melalui Doa
Terdapat kaitan yang sangat kuat antara puasa dan doa. Hal ini terlihat
dari penempatan ayat Allah:
ِ﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي
قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(Surah Al-Baqarah: 186)
Ayat ini terletak antara ayat-ayat tentang puasa, sebagai penegasan adanya
hubungan erat antara puasa dan doa. Puasa merupakan keadaan yang sangat
diharapkan terkabulnya doa. Dalil-dalil menunjukkan keutamaan berdoa saat
berpuasa, dan seorang mukmin sangat diharapkan doanya dikabulkan apabila
syarat-syaratnya dipenuhi dan penghalangnya tidak ada.
Dalam hadis disebutkan:
ِ«لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةٌ لَا
تُرَدُّ»
“Bagi orang yang berpuasa, ketika berbuka terdapat doa yang tidak akan ditolak.”
(HR. al-Hakim)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ (hlm.
16-17) sebagai berikut.
ِوالدُّعَاءُ مِنْ أَنْفَعِ الأَدْوِيَّةِ
وَهُوَ عَدُوُّ البَلَأِ يُدَافُعُهُ وَيُعَالِجُهُ وَيَمْنَعُ نُزُوْلَهُ
وَيَرْفَعُهُ أَوْ يُخَفِّفُهُ إِذَا نَزَلَ وَهُوَ سِلاَحُ المُؤْمِنِ
Doa adalah salah satu ubat yang paling bermanfaat. Ia merupakan musuh bagi
berbagai musibah: doa dapat menghadangnya, mengobatinya, mencegah turunnya
musibah, serta mengangkat atau meringankannya ketika musibah itu telah terjadi.
Karena itu, doa adalah senjata seorang mukmin.
Itulah antara sebab doa itu disebut sebagai senjata orang mukmin. Hal ini
sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, dari ‘Ali bin
Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Rasulullah S.A.W
bersabda,
ِالدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ
الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ
“Doa adalah senjata kaum mukminin dan merupakan
tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.”
Keadaan seorang mukmin saat berpuasa sangat layak untuk dikabulkan doanya,
kerana ia berada dalam kondisi dekat dengan Rabb-nya, akibat jiwanya yang
tunduk, kelelahan, dan kelemahan dirinya di hadapan Allah.
3. Ramadhan Menanamkan Iman kepada Hari Akhirat melalui Syafaat
Puasa juga mengandung penetapan adanya syafaat pada hari kiamat. Puasa
termasuk di antara amalan yang diberi kemampuan untuk memberi syafaat. Allah
mengkhususkannya dengan syafaat kerana keagungan kedudukannya dan besarnya
keutamaannya. Dengan izin Allah S.W.T, puasa menjadi pemberi syafaat bagi
seorang mukmin pada hari Kiamat.
Dalam hadits disebutkan:
ِ«إِنَّ الصِّيَامَ وَالْقُرْآنَ يَشْفَعَانِ
لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Sesungguhnya puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat.”
(HR. Ahmad)
Syafaat sendiri maknanya adalah thalabul khair lil ghairi, memohon kebaikan
bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain. Syafaat boleh terjadi dari
amalan kita, dan juga kerana sayangnya Nabi Muhammad S.A.W terhadap kita.
Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i, Rasulullah S.A.W bersabda kepada para sahabatnya,
ِأتَدرونَ ما خَيَّرَني ربِّيَ اللَّيلةَ ؟
قُلنا : اللَّهُ ورسولُهُ أعلمُ ، قالَ : فإنَّهُ خَيَّرَني بينَ أن يدخلَ نصفُ
أُمَّتي الجنَّةَ ، وبينَ الشَّفاعةِ ، فاختَرتُ الشَّفاعةَ ، قُلنا : يا رسولَ
اللَّهِ ادعُ اللَّهَ أن يجعلَنا مِن أهْلِها ، قالَ : هيَ لِكُلِّ مُسلمٍ
“Apakah kalian tahu apa yang Rabbku tawarkan
kepadaku malam ini?”
Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau bersabda, “Sesungguhnya Rabbku memberiku pilihan antara masuknya
setengah dari umatku ke dalam surga, atau syafaat. Maka aku memilih syafaat.”
Kami berkata, “Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar DIA
menjadikan kami termasuk orang-orang yang mendapatkannya.”
Beliau bersabda, “Syafaat itu diperuntukkan bagi setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)
4. Ramadhan Mengukuhkan Iman terhadap ketinggian Allah S.W.T
Puasa juga mengandung penetapan sifat ‘uluw (ketinggian) bagi Allah, iaitu
bahawa Allah Maha tinggi ke atas makhluk-Nya, dan sifat ini termasuk sifat
dzatiyyah yang tidak terpisah dari-Nya. Diturunkannya Al-Qur’an dari Allah pada
bulan puasa menjadi dalil bagi sifat ini, karena penurunan hanya terjadi dari
tempat yang tinggi.
Di antara bukti kemuliaan ibadah puasa di sisi Allah adalah bahawa Allah
menurunkan Al-Qur’an pada bulan ini dari atas tujuh lapis langit, untuk
menjelaskan keutamaan dan kedudukannya. Allah S.W.T berfirman:
ِ﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ
الْقُرْآنُ﴾
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.”
(Surah Al-Baqarah: 185)
5. Ramadhan melatih Iman untuk mengharap keampunan Allah S.W.T
Ibadah puasa juga mengandungi penetapan sifat al-‘afwu (Maha Pemaaf) bagi
Allah, sesuai dengan keagungan-Nya. Allah S.W.T mensyariatkan puasa agar sifat
ini tampak pada hamba-hamba-Nya yang berpuasa, bahawa Dia memaafkan orang yang
berbuat dosa dan melapangkan kesalahan orang yang khilaf.
Oleh karena itu, dianjurkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan dan maaf
kepada Allah S.W.T pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan dengan doa:
ِ«اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ
الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai
pemaafan, maka maafkanlah aku.”
(HR.
at-Tirmidzi)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
ِالْعَفْوُ مُتَضَمِّنٌ لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ
قِبَلِهِمْ وَمُسَامَحَتِهِمْ بِهِ، وَالْمَغْفِرَةُ مُتَضَمِّنَةٌ
لِوِقَايَتِهِمْ شَرَّ ذُنُوبِهِمْ، وَإِقْبَالِهِ عَلَيْهِمْ، وَرِضَاهُ
عَنْهُمْ؛ بِخِلَافِ الْعَفْوِ الْمُجَرَّدِ؛ فَإِنَّ الْعَافِيَ قَدْ يَعْفُو، وَلَا
يُقْبِلُ عَلَى مَنْ عَفَا عَنْهُ، وَلَا يَرْضَى عَنْهُ.
‘Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan
mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat
buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima
mereka, dan redha kepada mereka. Berbeza dengan ‘afwu yang sekadar (murni)
‘afwu, kerana orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat
kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak redha kepadanya.
ِفَالْعَفْوُ تَرْكٌ مَحْضٌ، وَالْمَغْفِرَةُ
إحْسَانٌ وَفَضْلٌ وَجُودٌ
(Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)
Maka, Ramadhan yang berkesan ialah Ramadhan yang membentuk jiwa yang lebih tenang, lisan yang lebih terpelihara dan hubungan yang lebih harmoni kerana inilah tanda puasa yang benar-benar hidup dalam diri… Allahumma solli ‘ala saidina Muhammad :”)
.jpg)


.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)









.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

.jpg)
.jpg)
















