Pernahkah kita membayangkan ada
seseorang yang hidupnya hanya dipenuhi doa untuk orang lain? Seseorang yang
tidak pernah tenang melihat umatnya menderita, bahkan sampai akhir hayatnya
yang terucap adalah kata-kata penuh cinta, iaitu “Ummati, ummati” — umatku,
umatku.
Dialah Nabi Muhammad S.A.W,
manusia pilihan Allah yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Bukti
paling indah dari kasih sayang beliau terangkum dalam dua ayat terakhir Surah
at-Taubah:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ (128) فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (129)
Sungguh
telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaannya, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat
belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling
(dari keimanan), katakanlah (Wahai Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku. Tidak
ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan
pemilik ‘Arasyh yang agung.”
(Surah At-Taubah Ayat 128-129)
Ayat
ini bukan sekadar firman yang indah, melainkan lukisan cinta yang hidup. Allah S.W.T
menggambarkan Nabi Muhammad S.A.W sebagai utusan yang lahir dalam kalangan umat manusia, dengan nasab yang
jelas, ahlak yang terpelihara, dan kehidupan yang dekat dengan seluruh manusia sejagat.
Baginda bukanlah hanya sekadar insan asing yang hanya mampu dipandang dari jauh, melainkan teladan yang
nyata untuk diikuti. Lebih dari itu, ayat ini juga menjadi gambaran tentang
diri Rasulullah S.A.W. Baginda adalah insan yang luar biasa, seorang manusia yang hatinya larut dalam
kecintaan terhadap umat, yang setiap detiknya menginginkan keselamatan mereka (umatnya), dan
yang diberi anugerah dua sifat agung Allah sendiri—ra’ūf (sangat penyantun) dan
raḥīm (sangat penyayang).
Inilah potret utuh Nabi Muhammad S.A.W sebagaimana kehendak Allah S.W.T untuk dikenang oleh umat, penuh kasih, sabar dalam menghadapi penolakan, dan teguh dalam tawakal. Dua ayat ini seakan menjadi cermin keagungan peribadi baginda, manusia mulia yang menggabungkan kedekatan, cinta, dan keteladanan dalam satu peribadi yang tak tertandingi sepanjang sejarah.
Rasulullah S.A.W, adalah insan kamil (sempurna) yang sangat dekat dengan umatnya. Rasulullah S.A.W bukanlah sosok asing yang datang dari luar, melainkan termasuk dalam kalangan masyarakatnya sendiri.
Tafsir Al-Ṭabarī menegaskan bahwa baginda diutus dalam kalangan bangsa
Arab, yang sejak lama mengenalnya sebagai peribadi yang sangat dipercayai,
jujur dan berakhlak mulia. Mereka tahu
garis keturunannya yang suci, menyaksikan sejak kecil perilakunya yang terjaga,
dan mendapat gelaran al-Amīn (yang dapat dipercayai).
Nabi Muhammad S.A.W hadir bukan sebagai tokoh jauh yang hanya boleh dipuji dari kejauhan, melainkan manusia yang hidup nyata di tengah masyarakat, makan bersama mereka, bekerja bersama mereka, dan sangat kasih kepada mereka. Baginda adalah insan sempurna yang akrab dan boleh disayangi oleh sesiapa pun.
Kehadiran
baginda membuktikan bahawa keteladanan tidak lahir dari jarak, melainkan dari kedekatan,
tidak hanya dari kata-kata, melainkan dari kehidupan sehari-hari yang penuh
konsistensi. Kerana itu, setiap sisi kehidupan Rasulullah S.A.W, baik sebagai
suami, ayah, sahabat, pemimpin, maupun hamba Allah, menjadi sumber inspirasi
abadi yang wajar kita teladani hingga hari ini. Baginda adalah sebaik-baik
contoh ikutan untuk sekalian manusia di dunia ini.
Menurut Al-Qurṭubi, penderitaan, kesesatan, bahkan azab seksa neraka bagi umat manusia, membuat hati Rasulullah S.A.W penuh resah. Padahal baginda adalah insan yang sudah dijamin syurga, tetapi masih menitiskan air mata demi keselamatan terhadap umatnya. Bahkan ketika berperang, yang beliau inginkan bukan kebinasaan musuh, melainkan agar umat manusia beriman kepada Allah S.W.T.
Andai saja mereka menerima kebenaran, itu jauh lebih membahagiakan bagi baginda daripada kemenangan di medan perang. Air mata baginda dalam doa menjadi saksi, tangisan itu bukan untuk dirinya, tetapi untuk kita. Keinginan tulus ikhlas agar kita selamat di dunia dan di akhirat.
Hal tersebut seakan menunjukkan betapa besar kasih -sayang dan kerinduan
Nabi Muhammad S.A.W kepada umat manusia. Kerinduan itu bukan sekadar rasa rindu
seorang guru kepada murid, atau pemimpin kepada pengikut, melainkan kerinduan
seorang kekasih yang tidak pernah ingin ditinggalkan oleh orang yang
dicintainya.
Nabi Muhammad S.A.W begitu mendambakan agar mereka yang masih jauh dari cahaya Islam dapat menemukan hidayah, dan mereka yang sudah beriman tetap teguh dalam keimanan tanpa goyah oleh godaan dunia.
Setiap langkah dakwah baginda, setiap seruan tauhid, dan setiap nasihat yang beliau sampaikan, semuanya lahir dari satu keinginan agar manusia tidak tersesat, tidak terjerumus ke jurang kehancuran, melainkan merasakan manisnya iman dan keselamatan abadi di sisi Allah S.W.T. Kerinduan ini tidak pernah padam, bahkan ketika baginda dicaci, ditolak, atau dilukai, cinta dan harapan baginda pada keselamatan umatnya justeru semakin besar dan mendalam.
Oleh sebab itu, doa Nabi Muhammad S.A.W sentiasa dipenuhi dengan permohonan ampunan, kebaikan, dan rahmat untuk umatnya. Tidak hanya untuk mereka yang beriman di zamannya, tetapi juga untuk kita semua yang lahir jauh setelah baginda wafat.
Bahkan kelak pada hari kiamat,
saat seluruh manusia diliputi ketakutan yang amat dahsyat, para Nabi lain hanya
sempat memikirkan diri mereka sendiri seraya berkata, “nafsī, nafsī” (diriku,
diriku).
Namun Rasulullah S.A.W tampil berbeza, baginda tidak berkata untuk dirinya, melainkan menyerukan dengan penuh cinta: “ummatī, ummatī” (umatku, umatku).
Pemandangan ini menjadi bukti cinta yang
tiada tandingnya bahwa pada saat semua manusia sibuk menyelamatkan diri, namun baginda tetap mengingati umatnya, memohonkan syafaat, dan berharap kita semua
mendapatkan ampunan. Itulah kerinduan abadi yang hanya lahir dari seorang Rasul
yang benar-benar hidupnya dipersembahkan untuk cinta kepada Allah S.W.T dan
kasih sayang kepada manusia umum.
Ra’ūf dan Raḥīm: Cermin Kasih Sayang Allah S.W.T menganugerahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W dua sifat agung yang begitu istimewa: ra’ūf (sangat penyantun) dan raḥīm (sangat penyayang). Kedua sifat ini bukan sembarangan gelaran, melainkan bahagian dari Asma Allah sendiri, dan hanya Rasulullah S.A.W yang mendapatkannya sekaligus.
Ini menandakan bahwa baginda
adalah pancaran langsung dari kasih sayang Ilahi di muka bumi. Setiap gerak dan
langkahnya mencerminkan kelembutan, setiap kata yang terucap membawa keteduhan,
dan setiap tindakannya menghadirkan kedamaian bagi siapa pun di
sekitarnya.
Baginda Nabi S.A.W bukan hanya seorang pemimpin yang ditaati, tetapi juga seorang pendidik yang penuh kelembutan, seorang sahabat yang dapat dipercaya, bahkan seorang pemimpin yang penuh kasih bagi seluruh umat manusia.
Sifat ra’ūf dan raḥīm
ini membuat baginda selalu hadir sebagai penolong dan pelindung, meski sering
kali umatnya sendiri melupakan dan mengabaikan beliau. Al-Qurṭubī menegaskan
bahwa gelaran ini adalah bukti betapa mulianya kedudukan Nabi Muhammad S.A.W di
sisi Allah S.W.T.
Tidak ada nabi lain yang digambarkan dengan sifat kasih sayang sedemikian lengkapnya. Rasulullah S.A.W bukan hanya utusan yang menyampaikan risalah, tetapi juga penghibur bagi hati-hati yang gundah, penyembuh luka batin mereka yang patah, dan sahabat setia bagi siapa pun yang mencari ketenangan.
Ketika kita merasa jauh dari rahmat, baginda hadir
dengan doa-doanya agar kita didekatkan kembali. Ketika kita tergelincir dalam
dosa, baginda memohonkan ampunan agar kita tidak binasa. Dan ketika kita merasa sendirian dalam hidup
ini, cukup kita mengingat bahwa ada seorang Rasul yang setiap detik hidupnya
diisi dengan kasih-sayang untuk kita, hingga Allah S.W.T sendiri meneguhkan
sifat itu dalam Al-Quran.
Inilah cinta yang hakiki, cinta yang tidak menuntut balasan, cinta yang abadi sepanjang zaman. Kisah Thaif: Cinta yang Tidak Pernah Terbalas dengan Kebencian. Salah satu momen paling menyayat hati dari perjalanan Nabi S.A.W adalah ketika baginda berdakwah di Thaif. Alih-alih tidak diterima, baginda justeru dihina, diusir, bahkan dilempari batu hingga tubuh mulianya berdarah.
Dalam keadaan
penuh luka dan keletihan, malaikat Jibril datang menawarkan bantuan: “Wahai
Muhammad, jika engkau mahu, akan aku timpakan gunung ini untuk menghancurkan
penduduk Thaif.” Namun jawab Nabi Muhammad S.A.W sungguh mengejutkan. Beliau
menolak balas dendam.
Sebaliknya, baginda mengangkat tangan dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak tahu. Ya Allah, semoga dari keturunan mereka lahir generasi yang beriman kepada-Mu.” Lihatlah, di saat manusia biasa mungkin akan murka, Rasulullah S.A.W justru memilih doa dan harapan kebaikan.
Kisah Thaif adalah
bukti nyata sifat ra’ūf dan raḥīm beliau, kasih sayang yang tidak terbalas
dengan kebencian, tetapi dengan doa untuk keselamatan. Teladan Agung dalam
Tawakal Akhir ayat ini mengajarkan kalimah yang begitu dalam: “Hasbiyallāh, lā
ilāha illā Huwa, ‘alayhi tawakkaltu wa Huwa Rabbul-‘Arsyil-‘Azhīm.” (Cukuplah
Allah bagiku, tiada tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah
Rabb Pemilik ‘Arsy yang agung.)
Saat
ditolak, Rasulullah S.A.W tidak mencari pengaruh manusia. Baginda tidak
bergantung pada banyaknya pengikut, tidak pula putus asa. Baginda hanya
bersandar pada Allah S.W.T. Dari sinilah kita belajar bahwa kekuatan sejati
seorang Muslim terletak pada keteguhan tawakalnya.
Maulidur Rasul : Waktu Tepat untuk mengenang perjuangan serta budi agung baginda Nabi Muhammad S.A.W. Membalas cinta terhadap baginda nabi bukan hanya meraikan perayaan maulid Nabi sahaja.
Seharusnya tidak berhenti pada gema shalawat atau
kemeriahan sambutan yang dibuat. Lebih dari itu, Maulid adalah saat paling
tepat untuk menundukkan hati dan bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah kita
benar-benar membalas cinta Rasulullah S.A.W yang begitu besar?”
Apakah kita hanya memujinya dengan lisan, ataukah kita juga berusaha meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari? Jika Rasulullah S.A.W resah melihat umatnya tergelincir, tidakkah hati kita tergerak untuk menjaga diri dari dosa?
Jika beliau menitiskan air mata demi keselamatan kita, pantaskah kita justeru
mengabaikan sunnahnya? Jika baginda menanggung lelah dan derita hanya agar kita
terselamat, bagaimana mungkin kita masih lalai mengabaikan wasiatnya? Maulid
adalah undangan bagi kita untuk menjadikan diri agar menjadi umat yang
benar-benar layak dicintai oleh Rasulullah S.A.W.
Dengan meneladani akhlaknya, menjalankan ajarannya, dan berusaha menjadi hamba Allah yang soleh dan solehah, kita tidak hanya memperingati kelahiran beliau, tetapi juga menghidupkan kembali cintanya dalam setiap detak kehidupan kita.
Dua ayat
terakhir Surah at-Taubah menyingkap keindahan sejati peribadi Rasulullah S.A.W
dekat dengan umatnya, peduli terhadap penderitaan mereka, penuh kasih sayang,
dan teguh dalam tawakal.
Pada hari akhirat kelak, semua manusia akan dibangkitkan semula. Allah S.W.T menyatakan mengenai perkara itu menerusi firman-Nya dalam Surah al-Anbiya’, ayat 104 yang bermaksud:
“Sebagaimana Kami mulakan wujudnya sesuatu kejadian,
Kami ulangi wujudnya lagi sebagai satu janji yang ditanggung oleh Kami,
sesungguhnya Kami tetap melaksanakannya.”
Di sana manusia akan diasingkan kepada dua kumpulan iaitu golongan kanan dan golongan kiri. Ketika itu, ada sekumpulan manusia dalam kalangan umat Nabi Muhammad S.A.W diambil oleh malaikat lalu diletakkan dalam golongan kiri.
Sudah pasti yang
kiri itu adalah golongan bermasalah. Ketika melihat umatnya diambil malaikat
dan digolongkan dalam kumpulan kiri, Nabi Muhammad S.A.W berkata kepada Allah,
itu adalah umatnya.
Seboleh-bolehnya
Baginda tidak mahu sahabat serta umatnya disentuh api neraka. Nabi S.A.W berkata, ketika hidup, Baginda menjadi saksi atas Islam dan berimannya
semua sahabatnya.
Baginda akan membaca semula ayat Al-Quran yang pernah dibaca Nabi Isa. Ayat daripada Surah al-Maaidah, ayat 117 itu bermaksud:
“Aku menjadi saksi terhadap mereka
(dengan membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah) selama aku berada
dalam kalangan mereka, kemudian apabila Engkau sempurnakan tempohku, menjadilah
Engkau sendiri yang mengawasi keadaan mereka dan Engkau jualah yang menjadi
saksi atas tiap-tiap sesuatu.”
Dalam ayat seterusnya dalam surah sama menyatakan, sekiranya Allah S.W.T memutuskan untuk memberi azab kepada mereka, tiada siapa yang dapat menghalang atau menghalangnya.
Bagaimanapun, Nabi S.A.W tetap berusaha dan memilih untuk membaca
ayat itu supaya Allah S.W.T mengurniakan belas ihsan kepada umatnya yang
tergolong dalam kumpulan kiri itu.
“Jika
Engkau menyeksa mereka, (maka tidak ada yang menghalangnya) kerana sesungguhnya
mereka adalah hamba-hamba-Mu dan jika Engkau mengampunkan mereka, maka
sesungguhnya Engkaulah saja yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.” (Surah
al-Maaidah, ayat 118)
Walaupun
bilangan manusia ketika itu terlalu ramai, Nabi Muhammad S.A.W tetap mengenali umatnya. Antaranya ialah berdasarkan kepada anggota wuduk mereka yang bercahaya. Cerita mengenai akhirat
sememangnya sangat menggerunkan. Dalam sebuah hadis daripada Saidina Abu Bakar
As-Siddiq, beliau menceritakan, pada satu hari Nabi Muhammad S.A.W melakukan satu perkara
pelik.
Nabi S.A.W keluar pergi ke masjid untuk menunaikan solat subuh. Selepas solat Subuh, Baginda duduk sehingga masuk waktu dhuha. Selepas menunaikan solat dhuha, tiba-tiba Nabi SAW tertawa. Perkara itu dilihat oleh sahabat Baginda. Kemudian, Nabi duduk dan tunggu sekali lagi di tempat itu sehingga Nabi solat Zuhur, Asar dan Maghrib.
Sepanjang tempoh itu, Nabi tidak bercakap dengan sesiapa pun.
Sehingga Nabi S.A.W solat Isyak, kemudian Baginda bangun dan pulang ke rumah. Sahabat
kemudian bertanya kepada Abu Bakar, kenapa Nabi tidak bercakap dengan mereka
sejak subuh. Lalu Abu Bakar pergi ke rumah Nabi untuk mendapatkan kepastian. Nabi
Muhammad S.A.W menjelaskan kepada Abu Bakar, dalam tempoh itu Allah S.W.T
memperlihatkan kepadanya kisah dunia dan akhirat.
Baginda
berkata, seluruh manusia akan dihimpunkan di padang mahsyar dalam keadaan wajah
mereka dalam ketakutan. Di sana keadaan matahari terpacak sejengkal di atas
kepala, seluruh manusia ketika itu akan tenggelam dalam peluh masing-masing
sementara menunggu masa untuk dihitung. Lalu pada ketika itu, akan ada manusia
bercakap sesama mereka dan mahu mencari sesiapa yang dapat membantu untuk
melepaskan diri daripada keadaan penuh seksa itu.
Dalam satu hadis dinyatakan, mula-mula mereka akan mencari Nabi Adam A.S untuk minta pertolongan. Ini disebabkan Nabi Adam A.S adalah bapa kepada seluruh manusia. Bagaimanapun, Nabi Adam A.S tidak dapat membantu dan mencadangkan mereka berjumpa Nabi Nuh A.S. Begitu juga dengan Nabi Nuh A.S, baginda tidak berupaya untuk menolong dan mencadangkan supaya bertemu Nabi Ibrahim A.S.
Jawapan sama diberikan Nabi
Ibrahim A.S yang menyatakan baginda tidak mampu memberi pertolongan. Nabi
Ibrahim A.S kemudian mencadangkan mereka berjumpa Nabi Musa A.S. Jawapan sama
diberikan Nabi Musa A.S kerana pada hari itu baginda turut mempunyai hal dengan
Allah S.W.T. Lalu Nabi Musa A.S seterusnya mencadangkan mereka berjumpa Nabi
Isa A.S.
Nabi Musa A.S berkata, Allah S.W.T memberikan Nabi Isa A.S banyak keistimewaan dan mukjizat antaranya mampu mencelikkan orang buta, menyembuhkan orang kena penyakit sopak dan paling hebat, baginda boleh menghidupkan orang mati atas keizinan Allah S.W.T.
Bagaimanapun, apabila sampai kepada Nabi Isa A.S, baginda
juga tidak boleh memberi pertolongan tetapi mencadangkan supaya berjumpa
penghulu kepada seluruh manusia iaitu Nabi Muhammad S.A.W.
Akhirnya, apabila dapat berjumpa Nabi Muhammad S.A.W, Baginda terus berdoa kepada Allah S.W.T supaya dapat membantu umatnya. Malaikat Jibril bertemu Allah S.W.T lalu Allah memerintahkannya supaya memberitahu Nabi Muhammad S.A.W.
Allah S.WT mengizinkan
baginda memberikan syafaat kepada sesiapa saja. Malaikat Jibril kemudian datang
berjumpa Nabi Muhammad S.A.W untuk menyampaikan hal berkenaan. Nabi Muhammad S.A.W
yang mendengar berita gembira itu terus sujud sebagai tanda syukur.
Nabi Muhammad S.A.W terharu kerana Allah S.W.T memberi peluang kepadanya memberikan syafaat serta pertolongan yang membolehkan umatnya mendapat syurga.
Begitulah betapa
kasih dan sayang Nabi Muhammad S.A.W kepada umatnya. Sehubungan itu, jangan
sesekali kita berputus asa untuk melakukan amalan kebaikan serta mencari rahmat
dan belas kasihan daripada Allah S.W.T
Pada hari akhirat nanti, semua umat ingin mendapat syafaatnya, ingin berada dalam barisannya, ingin dipanggil dengan penuh kasih: “Umatku.” Maka jangan biarkan cinta itu hanya jadi cerita.
Wujudkan dalam iman, amal, dan akhlak. Karena tidak banyak yang tahu dan sering kali kita lupa bahwa ada satu manusia yang tidak pernah berhenti memikirkan kita, bahkan di saat kita melupakannya. Dialah Rasulullah.., Muhammad S.A.W, cahaya kasih sayang yang tidak pernah padam sampai ke akhirnya… Allahumma solli ‘ala saidina Muhammad :”)








.jpg)


.jpg)












.jpg)




.jpg)



.jpg)
.jpg)

.jpg)